Sabtu, 24 Agustus 2013

Jalani Dulu Aja.. (inspired by @kinaljkt48)

Matanya masih memandang ke arah langit malam. Peluhnya masih belum kering akibat latihan tari yang baru saja dijalani. Celana training panjangnya pun belum dia turunkan lipatan kakinya.

Kinal namanya. Dan disini, di teras depan sanggar tari tempatnya dan teman-teman JKT48 nya berlatih, adalah spot favoritnya menghabiskan waktu beristirahat sehabis latihan. Biasanya bersama Ve, sahabatnya. Tapi kali ini sendiri.

Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi langit malam yang sebenarnya sedikit mendung dan bulan sedang dalam fase bulan baru itu, sepertinya telah menarik kesadaran dan fantasi Kinal melayang menjelajahi kegelapannya. Bahkan nyamuk yang ramai berteriak di telinganya saja tidak mampu mengalihkan perhatiannya.

Teman lainnya saat ini masih sibuk berlatih blocking dance mereka masing-masing, termasuk Ve. Hanya Kinal dan Akicha yang sudah menyelesaikan latihan karena memang sudah menguasai detil blocking dance mereka.

Akicha saat ini tengah sibuk dengan teleponnya-yang Kinal tidak tahu apa isi pembicaraannya karena  berbahasa jepang, ditambah lagi Kinal memang belum terlalu akrab dengan Akicha, membuat Kinal lebih memilih untuk beristirahat sendiri di teras luar.

Kakinya tidak bisa diam mendengar suara musik yang masih mengalun dari dalam sanggar. Lagu River ini memang salah satu favorit Kinal. Meski saat ini pahanya masih terasa sakit akibat latihan yang terlalu bersemangat tadi.

"Seberapa besar sih kita sekarang?" pertanyaan itu terus menerus menggaung di benak Kinal. Benak seorang kapten yang memiliki beban kewajiban membawa teman-temannya menjadi lebih besar lagi.

Mencoba membandingkan dengan sedikit bintang di langit malam itu.

"Bintang.. Sekeras apapun dia coba untuk bersinar, dia tetap terlihat kecil.." kini telunjuk Kinal seakan juga ikut melayang, menunjuk kearah bintang paling terang yang bisa dia lihat malam itu.

Dia masih bergumam dengan dirinya sendiri, ketika tanpa sadar, musik River dari dalam sanggar sudah berhenti. Pertanda member lain, teman-temannya yang lain memasuki waktu istirahat untuk malam itu.

"Kasihan kau, bintang..." gumam Kinal sembari telunjuk dan jempolnya berdekatan, seakan ingin mencubit bintang yang jadi lawan bicaranya barusan.

"Kau tahu Nal, cahaya bintang yang kau lihat sekarang, bisa jadi itu adalah cahayanya lebih dari 100juta tahun yang lalu."
Kinal hanya tersenyum melihat Ve yang tiba-tiba sudah berdiri disampingnya dengan kepala mendongak keatas, berusaha untuk melihat kearah bintang. Itu hobinya. Hobi itu yang kini juga sedang ingin ditiru oleh Kinal.

"Iya tahu. Alam semesta ini kan luas sekali." tanggap Kinal.

"...dan akan terus bertambah luas." tambah Ve lalu duduk memeluk lutut disebelah Kinal.

"Hey Ve, kita ini sudah sebesar apa sih? Sudah pernah ke jepang, apa itu sudah pantas membuat kita berpredikat 'bintang'?"

"Aku nggak tahu sih, tapi yang aku tahu, kita akan berjuang menjadi sebesar apapun yang kita bisa." jawab Ve.

"Bisa? Memangnya kita disini sampai berapa lama? Nggak mungkin untuk selamanya kan?"

Suasana seketika berubah kelam akibat pertanyaan Kinal barusan.

Ve pun memilih untuk menjawabnya dengan cara diam. Bertambah sendu ketika samar-samar terdengar lagu Anata Ga Ite Kureta Kara milik AKB48, yang tidak tahu berasal dari playlist ponsel milik siapa.
"Ve, aku barusan menemukan kata-kata bagus." Kinal yang jengah dengan keheningan yang tercipta, berusaha untuk menaikkan mood lagi diantara mereka berdua.

"Apa itu?"

Berlagak seorang filsuf, sambil membusungkan dada sedikit, Kinal berucap "Sekeras apapun sebuah bintang berusaha bersinar, dia akan selalu terlihat kecil". Lalu tersenyum.

Ve ikut tersenyum, setengah tertawa mendengar sang filsuf Kinal berusaha membuat kata mutiara versinya sendiri.

"Ya ya, bagus sih. Tapi itu benar lho Nal, sejauh apapun sesuatu berusaha terlihat bagus, akan selalu ada yang lebih bagus lagi."

"Lah, kalau begitu sia-sia dong orang yang berusaha terlihat bagus?"

"Ya! Contohnya kau yang berlagak jadi filsuf barusan! Hahaha." jawab Ve menyindir gaya filsuf yang diperagakan Kinal tadi.

Mereka berdua tertawa. Tidak seheboh tertawanya duo Sendy-Rica, tapi tertawa yang dalam sekali. Tertawa yang hingga paru-paru sesak kehabisan oksigen. Tertawa yang paling menyenangkan di dunia ini, menertawakan diri sendiri.

Keduanya sama-sama berhenti ketika mata mereka kembali tertambat pada langit malam.

"Ve, kenapa ya langit malam masih gelap, padahal banyak banget bintang yang bersinar sekuat tenaga."

"Ya yang aku tahu sih, sebenernya bintang dan semua yang ada di angkasa itu kan saling menjauh. Luar angkasa kan masih terus mengembang. Karena kecepatan mengembangnya itu melebihi kecepatan cahaya, cahaya dari setiap bintang itu berubah jadi inframerah. Makanya mata kita nggak bisa lihat cahayanya. Luar angkasa kalau dilihat dari teleskop infrared, sebenernya terang dan berwarna warni lho."

Kinal tidak heran dengan jawaban yang diberikan Ve. Sudah biasa. Kinal sudah terbiasa mendengar kalimat-kalimat ilmiah dari Ve. Itu yang membuatnya betah bersahabat dengannya.

"Yah si neng mah, malah dijawab pakai teori pelajaran." canda Kinal sambil memukul pelan bahu sahabatnya itu.
"...maksudku, bukannya bintang-bintang itu sia-sia saja berusaha untuk bersinar kalau ternyata tidak semua orang bisa lihat sinarnya?" ucap Kinal beretorika.

"Oh! Aku paham maksudmu.. Maksudmu kita kan? Mereka semua? Kita semua?" telunjuk Ve menyapu kearah setiap member yang bisa dia lihat. "...ya kita kan nggak bisa menyenangkan semua orang, Nal." tambah Ve.

"Puaskan dan pertahankan saja dulu setiap mata yang sudah tertuju ke kita selama ini. Iya kan?" jawab Kinal lalu menegakkan duduknya. Menepuk mati satu nyamuk di pergelangan kakinya.

Ve tidak menjawab, hanya tersenyum mendengar ucapan Kinal. Sedikit mengangguk sebagai tanda persetujuan.

"Dan ini juga. Kapten. Awalnya menyenangkan menyandang status ini. Tapi lama-lama kok susah ya? Kayak ada beban yang berat banget." keluh Kinal.

Ve yang biasa melihat Kinal yang penuh semangat, sedikit kaget mendengar keluhannya kali ini. Sedikit kaget, tapi tidak protes. Karena manusiawi sekali sebenarnya, merasa terbebani dengan tanggung jawab.

Tapi Ve juga lega, Kinal masih bisa bersikap dewasa menghadapi beban itu. Kalaupun kadang kala mengeluh, seperti saat ini, Kinal mengeluh pada orang yang tepat dan dengan cara yang amat elegan.

"Tenang, kita nurut kok, kapten. Kita semua sudah setuju dan dukung apapun yang kau lakukan sebagai kapten disini.. Asal yang baik baik aja lho." Ve coba menaikkan lagi kepercayaan diri Kinal.

Tidak sia-sia, karena Kinal terlihat lebih rileks mendengar jawaban yang dipilih Ve barusan.

"Nal! Kak Ve! Ayo sini, Kak Gicha sudah nyuruh masuk tuh!"
Teriakan Stella dari dalam sanggar seakan mengembalikan Kinal dan Ve menapak tanah lagi, dan sadar dari segala pembicaraan barusan. Sama tersenyumnya, mereka berdua saling bantu untuk berdiri dan dengan semangat berjalan masuk ke sanggar.

"Yah, yang penting kita coba dulu aja. Jangan pikirkan yang aneh-aneh." ujar Ve sebelum masuk ke dalam sanggar.

"Haha, semangat! Meski nggak bisa dilihat semua orang, bintang-bintang itu masih terlihat indah untuk sebagian orang kan?" Kinal mendorong tubuh Ve untuk berjalan didepannya, menyusul Stella.

"Kalian berdua ngapain sih?" tanya Stella penasaran.

"Nanti kita ceritain Stel. Sekarang latihan dulu. Oh ya, Bima Satria Garuda, jadi?"

"Jadi Nal. Nggak kebayang nanti jadi sesibuk apa, tapi aku putusin untuk terima tawaran itu. Kapan lagi kan?"

"Ya udah sih, yang penting kan dijalani aja dulu, Nal, Stel." sela Ve.

"Hey ayo cewe-cewe rempong, cepet masuk sini. Latihan lagi!"

Teguran dari sensei Gicha membuat mereka bertiga buru-buru masuk dan memulai lagi latihannya. Memulai lagi menyusun keping-keping mimpi mereka. Keping-keping yang nantinya entah akan berwujud apa hasilnya. Keping-keping yang terus berusaha disusun oleh mereka. Oleh ke-24 member ditempat itu

Jumat, 16 Agustus 2013

Mimpimu Ketinggian! (fanfict inspired and dedicated to my oshi, @sendyjkt48)


Halo diary, ini masih aku, Ningsih. Apa kabarmu hari ini?

Kabarku? Masih sama dengan hari-hari kemarin, capek keliling kota ini menyanyi panggung ke panggung. Kadang aku ingin berhenti saja dari dunia ini, diary.
Berhenti bernyanyi keliling, berhenti selalu tersenyum palsu di depan penonton, berhenti mencoba menenangkan penonton-penonton mabuk yang lebih sibuk berkelahi daripada mendengarkanku bernyanyi. Capek.

Tapi, diary, kalau aku berhenti disini, aku mau makan apa? Penghasilanku satu-satunya ya cuma dari bernyanyi ini.
Diary, jangan bosan mendengarkan cerita ceritaku ya.
_____________________________
Dear diary, kau tahu, hari ini ada penyanyi baru yg ikut gabung di orkes keliling ini.

Biduan itu tidak jauh berbeda dengan umurku, badannya mungil, dia lucu, dan matanya bagus. Aku masih belum begitu akrab dengannya, namanya saja aku belum tahu.. Hehe. Tapi mungkin besok aku akan berkenalan dengannya.

Kau tahu, diary, aku jadi sedikit bersemangat sekarang. ^^
_____________________________
Diary, apa kabarmu hari ini? Hari ini tidak berjalan baik lagi.

Akan aku ceritakan, diary, tapi kau dengarkan dengan baik ya.

Hari ini, lagi-lagi terjadi kericuhan ketika aku dan orkes kami tampil di balai desa. Kenapa sih, diary, orang-orang lebih sibuk berkelahi daripada mendengarkan aku bernyanyi? Aku marah, kesal. Padahal waktu itu, pas aku punya kesempatan nyanyikan lagu favoritku, Kereta Malam.

Tapi, tebak apa yg terjadi selanjutnya? Kau tahu biduan baru orkes kami itu kan, diary? Saat aku kesal dengan penonton dan ingin berhenti saja, biduan itu masih tersenyum dan bernyanyi dengan semangat. Matanya itu lho, diary, seakan menyuruhku untuk tetap bertahan diatas panggung. Aku tidak mau kalah bersinar dengan dia.

Lalu, setelah selesai, dibelakang panggung barulah aku punya kesempatan berbicara dengan dia. Dan kau tahu apa yg dia katakan? Dia berkata bahwa seperti apapun kondisi penonton, artis diatas panggung harus bisa profesional dan memberikan yg terbaik. Dan itu menjelaskan bagaimana sorot matanya tetap bersinar di kondisi yg mengesalkan buatku.

Sepertinya aku masih harus belajar lagi untuk jadi artis panggung yg baik.

Oh ya, nama biduan itu adalah Senia. Aku tidak tahu bagaimana penulisan namanya, apakah Senia atau Xenia. (Hey, kalau Xenia, itu mirip seperti superhero perempuan di tv dulu itu ya?! Hehe).
_____________________________
Halo diary! Aku cuma mau bercerita tentang teman baruku, Senia.

Ternyata dia sudah punya lagu sendiri lho. Bahkan dia sudah pernah bikin videoclip! Wow..

Ya dia bilangnya itu cuma videoclip murah, tapi itu tetap saja hebat kan, diary! ^^

Aku sempat bertanya apa cita-citanya, dia bilang ingin mengembangkan suaranya sampai bisa didengar diluar negeri. Wah, agak ketinggian sepertinya ya, diary. Aku hampir tertawa mendengar dia bercerita seperti itu, tapi aku tahan. Tidak baik kan menertawakan cita-cita orang lain?

Oh ya, sampai disini dulu ya, aku ada janji dengan Senia untuk makan malam. Kau tahu, diary, Senia itu orang yg sangat lucu dan menyenangkan!
_____________________________
Diary, maaf ya aku tidak menyapamu seminggu ini. Kau tahu kan, orkes kami sekarang sedang kebanjiran order. Mungkin gara-gara kehadiran Senia. ^^ (dan aku yakin itu!)

Seminggu ini orkes kami berkeliling jawa barat! Ya bukan di kota dan panggung besar, masih di desa-desa atau acara-acara kampanye, tapi aku senang sekali! Ini pertama kalinya aku tur keliling seminggu nonstop.

Tapi, kau tahu apa yg dikatakan Senia, diary? Dia bilang ini belum cukup! Dia masih belum puas, diary! Senia masih ingin tur yg lebih lama, yg lebih besar dari ini. Wow..

Aku tidak pernah tahu dimana akhir dari mimpinya yg ketinggian itu. Kau tahu kan, diary, kita hanya artis dangdut kecil, mana mungkin bisa keliling provinsi bahkan internasional.
_____________________________
Diary.... Aku lagi sedih.

Senia tiba-tiba mengajukan pengunduran diri dari orkes kami.. Padahal kami sedang sibuk-sibuknya karena banyak tawaran manggung.

Memang sih, Mang Didik, pimpinan orkes kami sudah menyiapkan biduan baru pengganti Senia, tapi tetap saja, aku merasa kesuksesan orkes kami akhir-akhir ini lebih karena faktor adanya Senia. Karena semangatnya Senia, suara emasnya, matanya yg selalu bersinar menunjukkan antusiasme, dan cita-cita ketinggiannya yg selalu lucu untuk didengarkan.

Waktu aku telpon Senia, dia bilang dia menemukan sedikit celah kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Aku bertanya, mimpi apa? Mimpi yg ketinggian itu? Mimpi untuk memperdengarkan suara dia di luar negeri? Aku rasa dia sudah gila, diary.
_____________________________
Aku tidak tahu apa yg bakal aku ceritain sekarang, diary. Sudah hampir sebulan ini aku tidak komunikasi lagi dengan Senia. Terakhir kali dia bilang dia akan dikarantina. Aku tidak tahu karantina apa itu, sms nya berhenti di kata 'karantina' begitu saja.

Biduan baru di orkes kami, pengganti Senia, itu juga memiliki suara yg bagus lho, diary. Kapan-kapan akan aku ceritakan tentang dia.
_____________________________
Diary! Apa kau sekaget aku? Kau tahu kan ada girlband baru itu, yg kemarin ada di tv, yg anggotanya banyak banget itu?

Aku seperti melihat ada Senia diantara mereka!

Aku tidak yakin sebenarnya, karena ada banyak cewek disana. Tapi ada satu sorot mata yg mirip dengan Senia, sorot mata yg tidak pernah aku lupa itu.

Baiklah, mungkin aku akan sedikit mencari tahu tentang girlband jekate empatlapan ini. Siapa tahu kan itu benar-benar Senia?
_____________________________
Ya Allah, diary.... Akhirnya aku temukan kamu lagi. Sudah setengah tahun ya kita tidak bertemu! Kau sih, pake hilang segala, sampai aku beli diary baru lagi kan... :')

Aku lanjutkan tulisanku yg sebelumnya disini ya, aku kan berjanji untuk mencari tahu apa itu jkt48.

Itu ternyata bukan girlband lho, diary. Tapi idol group.

Tentang Senia, aku tidak menemukan ada nama "Senia" di daftar anggota member jkt48, tapi ada satu member yg aku yakin bahwa dia itu Senia. Namanya Sendy Ariani.

Kenapa aku yakin, diary? Mukanya mirip, meski sekarang dia agak gendut ya, suaranya yg emas itu sempat diperdengarkan di tv, di acaranya tukul itu lho. Aku masih ingat suara itu! Aku masih ingat suaranya ketika dia nyanyi Terlena.
Dan matanya.. Aku tidak pernah lupa garis-garis semangat di dalam matanya itu.

Aku yakin Sendy Ariani ini adalah Senia, diary! ^^
_____________________________
Akhirnya, kau sudah sampai di halaman terakhirmu, diary. Sudah banyak sekali curhatanku disini, semoga kau tidak membenciku karena itu ya, diary. :')

Di tulisan terakhir di halaman terakhir ini, aku cuma ingin berbagi denganmu, diary. Berbagi tentang mimpi. Jangan pernah lagi mencap sebuah mimpi itu 'ketinggian'. Tidak ada mimpi yg ketinggian, diary. Semua mimpi, selama itu bisa kita ciptakan di pikiran, pasti bisa kita wujudkan di tindakan.

Aku kemarin akhirnya bertemu lagi dengan Senia lho. Dia yg berinisiatif untuk datang ke markas orkes kami. Aku benar-benar rindu dengannya!

Kau tahu, diary, dia datang ke markas dengan mengenakan kaos bertulis "jkt48". Haha, dia sudah jadi artis besar sekarang. Dan dia juga berbagi cerita dan foto serta video ketika dia bersama jkt48 sedang manggung di jepang. Beda sekali dengan aku yg masih saja ada di panggung dangdut kecil ini.

Tapi, kau jadi saksi ya diary, aku berjanji, aku tidak akan menyerah dalam mimpi-mimpiku mulai sekarang. Kalaupun rejekiku masih di dangdut, akan aku teruskan hingga nama Sri Ningsih bisa sejajar dengan idolaku, Iis Dahlia.

Ketinggian? Kata siapa, diary? Aku pernah bilang itu ke Senia, tapi apa yg terjadi sekarang? Aku belajar dari dia, dari Senia, dari Sendy Ariani, bagaimana cara meraih mimpi-mimpi yg ketinggian itu.

~END~

Author : @PradanaAnandya

Rabu, 31 Juli 2013

aku suka saat ini

Aku suka saat ini.

Setengah jam mungkin, bercengkrama hanya dengan pepohonan, gemericik air, segar rerumputan, musik folk yg sedari tadi ribut meminta perhatian di dalam headset yg tergantung di telinga, dan sedikit aroma walang sangit tewas.

Aku suka saat ini.

Saat rasanya hembusan angin seketukan nada dengan aliran darah di dalam tubuh. Tidak kencang. Mungkin gegara suara dayu Ebiet G Ade yg tetiba muncul dalam headset.

Aku suka saat ini.

Yg seakan aku bisa mendengar segala keluh kesah burung-burung ketika hari mulai senja. Dimana dua-tiga burung lain tampak mengotori langit sore ini yg biru jingga bening tanpa awan, terbang kesana kemari.

Aku suka saat ini.

Ketika imaji yg terbuat di dalam kepala saat aku menutup mata maupun membukanya, terlihat sama persis. Lapang. Berpuji kepada Tuhan.

Aku suka saat ini.

Saat-saat ringan melangkah menuju rumah setelah meninggalkan beban dan keluh bersama gemericik air dan hembusan angin tadi. Bersama rangkaian kata ini.

Aku suka saat ini.

Percayalah, mentari senja juga sedang melihatmu (first fanfiction for nichan jkt48)


"Nggak ada latihan nak?"
Suara itu terdengar begitu lembut di telinga Anissa. Terdengar menyejukkan di tengah kelut batinnya saat itu. Terasa masuk ke dalam telinga hingga tembus membasuh perasaannya yg kecewa.

"Nggak ada ma." jawabnya sebisa mungkin mengeluarkan suara bernada riang. Seperti layaknya bagian dirinya yg selalu dia tunjukkan di depan semua orang, Anissa yg periang.

"Terus, sekarang lagi ngapain? Kok nggak kedengaran ramai, biasanya setiap Nissa telepon mama, mama selalu susah dengar suara Nissa karena teman2nya Nissa ramai luar biasa."
"Nggak ma, Nissa lagi nggak sama teman2. Lagi mau sendiri aja, terus ingin telepon mama."
Masih, sebisa tenaganya, Nissa mencoba agar suaranya terdengar normal dan tidak bergetar, meskipun tangan kirinya, tangan yg tidak menggenggam telepon itu, hampir menyobek bagian bawah kaos bercorak anime One Piece bagus yg dipakainya saat ini, saking kerasnya dia meremas gemas menahan emosi yg dia tahan agar tidak keluar lewat suaranya.

"Ma, Nissa sebenernya masih mampu nggak sih ma disini, di jkt48?"

Anissa mulai terdengar kalah melawan keinginannya menahan emosi ketika berbicara dengan mama nya saat ini.

"Lho kenapa nak? Bukannya ini impianmu? Mama ya nggak tahu Nissa masih mampu bertahan atau nggak, kan yg menjalani semua itu Nissa sendiri. Nissa sendiri yg memilih untuk mengejar impian di jkt48 sampai pindah ke jakarta juga kan. Mama support Nissa terus kok. Emangnya ada apa nak? Berantem sama temen?"

Lagi Ma.. Kenapa cuman sebentar jawabnya, Nissa ingin mendengar jawaban mama... Batin Nissa terus berharap agar mama nya menghujani dia dengan bermacam wejangan, nasihat, peringatan, atau apapun itu. Barangkali diantara hujan kata-kata dari mama nya itu, Nissa bisa menemukan jawaban yg dia cari.

"Halo Nissa, kok diem aja?"

"Maaf ma..." kali ini suaranya benar-benar kalah oleh emosi, dan terdengar sangat bergetar, hampir menangis.

"Ma, kalau Nissa berhenti disini, mama bakal marah atau nggak?"

"Berhenti gimana nak? Dari jkt48? Dan kenapa mama harus marah ke Nissa? Kan sudah dari awal mama dukung apapun langkah Nissa. Yg mungkin buat mama marah, kalau Nissa berhenti nya itu tanpa ada perlawanan dan perjuangan apa-apa."

Jawaban itu sontak saja mengejutkan Anissa. Tangan kiri Nissa berhenti menarik bagian bawah kaos One Piece nya. Dia merasa mendapatkan apa yg ingin didengarkannya.

Perlawanan? Perjuangan? Anissa merenungkan dua kata dari mama nya itu. Bukan karena dia takut mama nya bakal marah, tapi memang dua kata itu terasa hilang dari kosakata hidupnya akhir-akhir ini.
Menegakkan kembali duduknya di kursi panjang di pinggir dermaga. Dermaga dengan pantai kotor penuh sampah sebenarnya, tapi dermaga itu, di kursi yg saat ini tengah didudukinya itulah spot favorit Anissa selama tinggal di Jakarta sekarang. Dari situ, Anissa bisa bernafas dalam semaunya, merenung dan menangis sebebasnya, tertawa dan menggambar sesukanya.

Kadang pula dia berimajinasi dibalik horizon laut lepas yg sering dia lihat, akan muncul sebuah kapal laut, kapal bajak laut tepatnya, dan kapal bajak laut Sunny milik Luffy, tokoh anime favoritnya, lebih persisnya lagi. Meski paham itu tidak mungkin, tapi Anissa tidak memikirkannya. Karena baginya, menyimpan imajinasi seperti itu, menyimpan impian-impian seperti itu lah yg membuatnya tetap ceria meski disaat seperti sekarang pun.

"Gimana sih ma, berjuang itu? Kemarin ada pengumuman pembentukan team K, ma. Dan Nissa nggak kepilih disitu. Nissa sekarang harus gimana coba? Pasti nanti kalau ada lagu baru atau event apa, Nissa pasti nggak diikutkan."

"Oh, jadi itu yg bikin Nissa nya mama galau. Ya nggak apa-apa nak. Kalau cuma itu, ya rebut lagi posisimu disana. Mama mungkin nggak tahu gimana persisnya yg terjadi di dalam sana, tapi yg mama tahu, Anissa Athia bukan anak yg mudah menyerah. Ingat dulu kamu yg bisa meyakinkan mama untuk ikut-ikutan temanmu pakai baju-baju aneh itu, apa namanya cosu...cos..apa itu kan?"

"Cosplay ma. Hihi."

Duduk Nissa kembali rileks. Kali ini dia bisa bersandar santai di kursi panjang itu. Melirik sebentar ke bagian kaos yg ditarik-tariknya sendiri dari tadi.

"Ya itu, cosplay. Mama kan juga nggak setuju dulu kamu pakai baju aneh gitu. Pake wig segala, apalagi yg waktu pakai baju cowok. Tapi toh Nissa bisa meyakinkan mama papa, sampai ikut lomba cosplay dan menang waktu itu."

Mendengar mama nya berbicara tentang cosplay, hobi yg sangat disukainya, membuat Nissa sejenak melupakan kesedihan dan emosinya. Dia bersyukur, menelepon mamanya merupakan hal tepat yg dia lakukan sore itu.
Setidaknya bisa mengurangi pikiran-pikiran negatif tentang ingin keluar dari jkt48, perasaan-perasaan iri kepada temannya yg terpilih. Nissa tidak bisa menyembunyikan perasaan kecewa dan iri itu, manusiawi. Karena itu dia memilih untuk menyendiri dulu sore ini.

"Tapi ma, bukannya itu berarti Nissa lebih jelek daripada temen yg kepilih?"

Entah kenapa, kini Anissa menyesali pemilihan kalimat yg baru saja keluar dari mulutnya itu. Membuatnya jauh lebih sedih dan terpukul.

"Bukan seperti itu. Nissa sudah baik, buktinya berhasil masuk jkt48. Hanya mungkin temen Nissa berlatihnya lebih keras dan intens daripada Nissa."

"....jadi Nissa, coba dengerin mama baik-baik. Nissa harus tahu, Nissa adalah cewek yg kuat, keras pendirian, kreatif, dan punya mimpi. Dan itu harus diperjuangkan. Kalau ada yg bikin Nissa sedih, ya dilawan. Tapi dilawan dengan cara positif, misalnya latihan lebih keras. Tunjukkan Nissa juga bisa, bahkan melebihi dari teman lain."

Anissa tersenyum. Bukan hanya karena saat ini dia juga tengah memperhatikan dua anak kecil lucu berkejaran di pinggir pantai, tapi lebih karena dia mendapatkan kembali apa yg hilang dari dirinya. Passion.

"Iya ma, kayaknya Nissa sudah tahu apa yg harus...."

Suara Nissa terhenti ketika tiba-tiba cahaya matahari senja menyorot tepat matanya, menembus rimbun dedaunan kelapa yg sebenarnya ada untuk memayungi area kursi panjang tempat dia duduk saat ini dari sinar matahari.
Disaat matanya belum pulih dari 'buta sesaat' akibat sorot matahari jingga itu, tepat dibawah posisi matahari yg hampir miring 45 derajat, di horizon laut lepas, seakan Nissa melihat sebuah kapal layar besar, dengan bentuk kepala singa di depannya. Kapal yg dari kecil sudah dia akrabi bentuknya. Kapal yg selalu dia impikan untuk datang ke dunia nyata. Sunny.
Kaget tentu saja, secepat itu pula Nissa berpindah posisi ke bagian lain dari kursi itu yg tidak tersorot sinar jingga, dan mencoba melihat lebih jelas apa yg tadi dilihatnya. Sunny.

Haha, tentu saja bukan.. Logika Nissa seketika berkata demikian, saat kapal layar yg tadi dilihatnya sebagai Sunny itu hanyalah kapal layar nelayan biasa. Terlihat besar akibat siluet yg memantul di laut karena perbuatan matahari senja yg miring itu. Dan se-jala besar ikan hasil tangkapan nelayan itu terlihat seperti berbentuk kepala singa jika diubah format gambarnya menjadi siluet.

"Nissa, kenapa nak, kok diem lagi?"

Suara mama nya membuyarkan salah paham yg menyenangkan yg barusan dialami Nissa.

"Engga ma.. Barusan pindah tempat duduk. Silau gara-gara matahari. Nissa sedang lihat matahari senja terbenam nih ma. Biar nggak terlalu sedih." jawab Nissa penuh semangat.

"Oh, melihat matahari. Dulu papa sama mama juga suka duduk-duduk sambil perhatiin matahari senja. Ada satu kalimat dari papa mu waktu itu yg masih mama ingat...."

"Apa itu ma?"

"Kamu boleh suka melihat mentari senja, karena itu memang indah. Tapi juga percayalah, bahwa mentari senja itu juga sedang melihat kearahmu, jadi berikan senyuman terbaikmu kepada mentari senja itu. Jangan sampai kalah indah dengannya."

Air mata yg tadi batal keluar ketika Anissa tengah bersedih, kali ini memberontak dengan liar tanpa bisa Nissa membendungnya. Terasa asin di pinggir bibirnya yg tengah tersenyum lebar, selebar senyum idolanya dari kecil, Luffy.
Lama dia tidak bisa membalas ucapan mama nya. Pertahanan Nissa jebol mendengar kalimat penguatan dari mama nya. Hingga akhirnya Anissa memilih untuk mematikan teleponnya saat itu juga, memberikan kesempatan bagi air mata nya untuk berderai keluar bersamaan dengan segala keluh, kesal, iri, dan sejenisnya itu yg sempat mengeruhkan jalan menuju impiannya.

Perlahan Nissa mencoba untuk menulis pesan sms untuk mama nya, meminta maaf karena menutup telepon dan berterima kasih untuk sore ini. Mama nya pasti mengerti dan mendengar isak tangisnya tadi.
Tersenyum sambil masih berurai air mata, Nissa mencoba membaca tulisan 'sent' di ponselnya, hanya untuk memastikan pesannya terkirim.

Sunny itu, yg membawa jala besar berisi ikan, semakin menjauh dari pandangannya. Pun begitu dengan mentari senja yg kini mungkin sudah miring 30 derajat. Lebih merah dari sebelummnya. Lebih indah dari sebelumnya.

Anak kecil yg berlarian tadi pun sudah digandeng ibunya. Dua-duanya menangis. Satu nya menangis karena habis dipukul sekop plastik, satunya lagi menangis karena dijewer ibunya yg marah. Dua anak menangis di tepi dermaga sore ini, tiga jika Nissa juga masuk hitungan, karena sampai saat ini dia belum juga berhasil menghentikan aliran air matanya.

Saat itu, dan seterusnya. Nissa tidak ingin dan tidak bisa untuk tidak berjuang melawan ketika ada apapun yg membuatnya jatuh dan sedih. Karena dia ingin, saat dia kembali bertemu dengan mentari senja dan menatap kearahnya, Anissa ingin mentari senja itu juga mengagumi keindahan senyum yg dia miliki. Tidak kalah indahnya dari mentari senja. Dan selalu akan terulang di setiap harinya.
~selesai~

Rabu, 06 Februari 2013

‘Seandainya’…


Akhir-akhir ini aku asyik dengan hobi baruku, yaitu menulis fiksi. Kegiatan yang sangat menyenangkan menurutku. Dimana kita bisa menciptakan dunia kita sendiri, mengatur jalannya hari-hari didalam dunia kita itu. Menciptakan sesuatu yang lebih indah daripada yang pernah kita alami.
Berbeda dengan proses tulisan-tulisanku sebelumnya yang mengharuskan aku untuk keluar dari rumah untuk mendapatkan hal-hal apa saja yang akan aku masukkan kedalam lembar-lembar tulisan.
Menulis fiksi ini seakan kita berada dalam dunia kedua selain dunia nyata kita.
Tapi juga bukan berarti menjadi penulis cerita fiksi membuat kita menjadi orang yang lebih suka bermimpi dan berkhayal dengan mengesampingkan kehidupan nyata kita. Justru sebaliknya.
Sama dengan kita bermain game, kita dapat memperjuangkan apa yang benar-benar kita inginkan, dengan hasil yang sudah pasti nyata. Karena terkadang di dunia nyata,ketika kita berusaha mati-matian akan suatu hal, hasil yang akan kita dapatkan belum lah tentu fair dengan apa yang kita perjuangkan. Banyak hal yang ikut mempengaruhi.
Menulis fiksi juga mengesankan kita mempunyai imajinasi yang berlebih dari orang kebanyakan. Dan itu justru bagus menurutku.
Bukan untuk membela diri sendiri, tapi orang dengan kemampuan imajinasi, kemampuan berkreativitas, maupun kemampuan untuk berkhayal sangat diperlukan di dunia kita yang serba eksakta sekarang ini.
Orang yang berimajinasi tinggi diperlukan untuk mengimbangi orang berintelektual tinggi dibidang eksak. Agar dunia ini tercipta keseimbangan.
Siapapun anda yang berpikir bahwa perkembangan di dunia ini hanya ditentukan oleh otak-otak dokter,professor,atau insinyur,siap-siaplah hancur dengan pikiran anda tersebut.
Tidak dipungkiri memang bahwa dunia membutuhkan intelegensi dari mereka-mereka tersebut. Tapi anda akan salah besar kalau merendahkan kedudukan para seniman,illustrator,filsuf,desainer,creator, dan bahkan penulis.
Dunia mencatat beberapa pengubah-pengubah dunia juga banyak dari kalangan seniman. Sebut saja salah satu contoh seniman pengubah dunia yang palin bersinar,yaitu Leonardo Da Vinci.
Anda bodoh kalau tidak menganggap Da Vinci dengan segala yang sudah ditemukannya bukan termasuk salah satu pengubah terbesar terhadap dunia yang kita tinggali saat ini.
Ada juga pengubah-pengubah dunia dari bidang kreativitas yang lain seperti yang dilakukan kelompok The Beattles, Michael Jackson, Elvis Preasley, dan hingga era Deep Purple serta Nirvana.
Contoh teranyar yang dari imajinasinya berhasil mengubah dunia adalah salah satu ‘bunda’ dari para penulis baru, yaitu JK Rowling. Sebelum dia muncul dengan Harry Potter nya,dunia tidak terlalu memandang serius dunia tulis menulis fiksi. Ketika itu dunia lebih memilih bacaan-bacaan yang lebih serius seperti auto-biografi atau bahkan masih ada yang memilih buku-buku filosofi sebagai bacaannya.
Lalu coba kita melihat kedalam negara kita sendiri. Sebagai negara yang memang sedang berkembang, pola pikir di masyarakatnya adalah bagaimana untuk mencapai tingkat pendidikan setinggi-tingginya. Kreativitas? Imajinasi? Mereka tidak terlalu peduli dengan pengembangan-pengembangan itu. Yang penting pinter,punya gelar pendidikan sebanyak-banyaknya,sudah cukup.
Coba lihat beberapa contoh dokter yang ada disekitar kita. Untuk anda yang bukan bekerja sebagai dokter, pernah tidak merasakan ketika anda pergi ke si dokter X, anda tidak dilayani dengan semestinya dokter melayani pasien.
Entah itu dari tata bicara si dokter X itu yang terkesan asal-asalan, terkesan menggurui pasien, sampai ada beberapa tingkah laku yang menunda untuk memeriksa pasien pada jam-jam sekian karena beliau sedang makan atau tidur!
Cara pandang yang tidak pernah berandai-andai ‘seandainya aku pasiennya’ yang dimiliki beberapa contoh oknum dokter tersebut juga membuktikan bahwa memang dia otaknya pintar,cerdas,mampu menghafal beribu-ribu jenis penyakit beserta gejala dan obatnya,tapi sangat lemah dalam merasakan. Tidak peka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengandung kata ‘seandainya’.
Tidak hanya berlaku untuk beberapa orang pintar dari latar belakang kedokteran, di dunia industri dan di dunia bisnis bahkan lebih banyak lagi. Mereka orang pintar,cerdas,tapi sayang kepekaan mereka terhadap kata ‘seandainya’ juga sangat lemah.
Coba saja kalau sebagian besar pengusaha kaya raya itu mau berpikir tentang ‘seandainya’, kita tidak lagi melihat banyak pengangguran,tidak lagi menemukan gelandangan-gelandangan di pinggir jalan,tidak lagi menemukan anak-anak berperut buncit karena kekurangan gizi.
Aku juga tidak mencoba untuk mengagungkan para pekerja imajinasi, kelemahan paling terlihat dari sosok seniman-seniman kita itu adalah seringnya mereka berjalan dengan hanya mengandalkan sensitivitas mereka,dan jarang sekali intuisi logika mereka digunakan. Terbukti hanya ada beberapa saja seniman di negara kita yang hidupnya termasuk ke golongan kaya raya,meskipun sebenarnya ada jutaan seniman yang karyanya sangat bagus.
Kembali ke cerita tentang fiksiku tadi, saat aku menuliskan bab ini fiksiku tengah berjalan sepanjang 80 halaman. Masih sedikit sekali memang, tapi bagiku itu tidak mudah, apalagi itu tulisan cerita fiksi pertamaku. Semakin banyak halaman yang tertulis, aku semakin salut dengan penulis-penulis fiksi seperti bunda JK Rowling. Bagaimana dia mengalahkan kemalasan-kemalasan untuk mencari plot cerita baru,untuk mencari nama-nama dari berbagai tokoh dan tempat dalam cerita fiksinya (dan menurutku itu adalah bagian tersulit dalam menulis fiksi!).
Terakhir, mungkin sedikit berbagi tips untuk penulis-penulis fiksi baru sepertiku, ternyata fiksi itu bukan hanya sekedar cerita yang bergantung pada khayalan dan imajinasi saja, tapi lebih terpenting lagi adalah bagaimana kita bisa menuangkan pengalaman-pengalaman pribadi kita sebagai dasarnya dengan disertai tambahan-tambahan lain yang menurut kita bakal bisa memperkaya cerita fiksi kita.
Jadi, bagaimanapun, mau kita sedang menulis cerita-cerita slice of life,fiksi,ataupun komedi, Let’s Go Out and Find Your Own Experiences!

Senin, 28 Januari 2013

Satpam Layangan

Sore ini tadi, tidak seperti biasanya, aku habiskan waktu dengan berjalan-jalan disekitar kompleks perumahan. Mencoba untuk melepas diri ke lingkungan sekitar yang memang tidak terlalu akrab buatku. Lucu sekali dimana terlihat beberapa anak kecil bermain sepeda, bermain jungle jim yang memang tersedia di beberapa sudut taman kecil. Ada juga pemuda-pemudi –mahasiswa tampaknya- yang sedang sibuk dengan laptopnya masing-masing.
Didekat pos satpam juga terlihat penjual bakso yang akur dengan dua satpam yang sedang asyik menyantap bakso, dimana seharusnya satpam-satpam itu dengan tegas memperingatkan si pedagang bakso bahwa tidak boleh ada pedagang yang masuk ke area kompleks perumahan. Contoh gamblang bahwa semangkuk bakso bisa membayar ketegasan penegak ketertiban.
Disisi lain yang lebih mempunyai ruang lebih lapang, terlihat tiga atau empat anak yang khusyu’ mendongak keatas memperhatikan layang-layang mereka yang berkibar ditiup angin yang memang cukup bersahabat bagi penyuka layang-layang karena tiupannya cukup kencang.
Aku akhirnya lebih memilih untuk menonton para “petarung-petarung” layangan itu daripada memperhatikan ekspresi satpam-satpam penikmat bakso, ataupun menyaksikan wajah-wajah lelah si mahasiswa yang kelihatannya sudah tidak nyenyak lagi disetiap tidurnya.
Teringat dulu waktu seumuran anak kecil itu,aku juga sering sekali bermain layangan. Tidak cukup jago untuk “membunuh” layangan lain,tapi cukuplah untuk sekedar bisa menerbangkan layangan dengan mudah, karena aku tahu tidak semua orang diberi gift untuk sekedar menerbangkan layangan… hehe..
Seru juga menyaksikan jagoan-jagoan cilik itu bertarung melawan angin, dan beberapa teman baru mereka yang baru tiba di tempat itu dan berusaha menangkap angin agar layangan mereka bisa terbang. Sedangkan anak lain yang layangannya sudah terbang sejak tadi pun mulai bandel dengan mulai mengincar jalur senar benang milik pelayang-pelayang lainnya.
Satu layangan berhasil dia putuskan senarnya. Dan dia terlihat sangat senang. Entah kenapa ia sesenang itu,padahal baru saja dia sudah mengambil kesenangan dari anak yang putus layangannya. Tapi begitu pun, selain dia mengambil kesenangan si pemilik layangan yang putus, namun dia sekaligus memberikan kesenangan baru untuk anak-anak lain disekitar untuk mengejar layangan putus tadi.
Dan bagi siapapun yang tidak pernah bermain layangan tapi mengeluhkan kelakuan anak-anak pegejar layangan putus, berarti anda melewatkan salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup sebagai anak kecil!
Sementara geli ku masih teruntuk anak-anak pengejar layangan yang berlarian kearah terbangnya si layangan putus, mata dan iba ku menangkap bagaimana perasaan si pemilik layangan putus tadi. Dia kini tertunduk lesu sambil menggulung senar benangnya yang dililitkan pada semacam kaleng bekas.
Tangannya menggulung senar,tapi matanya menatap nanar kearah layang-layang lain yang masih menari di langit. Sejenak dia merogoh sakunya, dan kembali tertunduk lesu. Mungkin dia ingin membeli layang-layang baru namun uangnya sudah habis.
Begitulah keadaan tanah lapang sore itu. Tidak istimewa mungkin bagi anda penggemar mall dan playstation. Tapi bagi mereka, itu adalah salah satu ukuran kebahagiaan.
Dimana kebahagiaan itu berwujud layang-layang.
Ada waktu ketika anak-anak kecil itu mencoba dengan susah payah untuk menerbangkan kebahagiaan mereka. Mereka harus berlari-lari melawan arah angin terlebih dulu. Ketika kebahagiaan mereka itu sudah mengangkasa, ada waktu juga bagi anak-anak itu untuk berusaha mempertahankan kebahagiaan mereka agar tetap terbang tinggi.
Pun juga ada waktu ketika kebahagiaan mereka terenggut paksa oleh kebahagiaan orang lain. Ada anak yang mencapai kesenangan pribadinya dengan cara berusaha untuk memutuskan layang-layang milik anak lainnya, memutuskan senar kebahagiaan anak-anak lainnya. Kita tidak bisa menyalahkan si pemutus layangan, karena itu merupakan ukuran kebahagiaan untuk dirinya
Sedangkan bagi anak-anak yang putus layangannya,dia bisa satu step lebih maju dari si pemutus layangan, yaitu bisa belajar bagaimana cara mengikhlaskan kebahagiaan yang sudah terlanjur terlepas. Dan berusaha untuk tidak meratapinya terlalu lama. Dibalik sedihnya, sebenarnya dia mendapatkan lebih banyak hal positif.
Sejam aku duduk dipinggir jalan untuk memperhatikan mereka semua. Si pemutus layangan, Si anak yang layangannya putus, dan beberapa pengejar layangan putus.
Mungkin di pikiran sekelompok anak yang mengejar layangan putus itu, mereka sedang melakukan usaha untuk mendapatkan kebahagiaannya masing-masing.
Lalu tidak salah bukan kalau kita sedikit melihat kembali kedalam hidup kita, kedalam kebahagiaan-kebahagiaan kita. Apakah kita mendapatkan kebahagiaan kita itu dengan cara berusaha sendiri layaknya anak-anak yang sedang sibuk berkeringat untuk menerbangkan layangannya itu?
Atau apakah kebahagiaan-kebahagiaan yang kita dapatkan sekarang ini adalah hasil dari menikung kebahagiaan orang lain, seperti yang dilakukan si anak pemutus layangan tadi?
Pertanyaan berikutnya, apakah kita siap untuk berbesar hati dan ikhlas menerima jika sewaktu-waktu kebahagiaan kita lepas? Jika memang lepas, dan memang dikarenakan oleh orang lain yang menikung kebahagiaan kita, apakah kita akan berjuang berlarian untuk mendapatkan kebahagiaan kita itu kembali, atau hanya megikhlaskan dan mencari kebahagiaan dalam bentuk lain seperti yang dilakukan si anak yang layangannya putus?
Hingga akhirnya, apakah kita bersedia untuk saling sikut dengan orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan kita, seperti beberapa anak yang berebut untuk mendapatkan layangan putus yang kini tersangkut di pohon itu?
Aku hanya tersenyum melihat berbagai pertanyaan itu melintas di pikiranku. Masih melamunkan apa yang kira-kira akan aku jawab, hingga tersadarkan oleh bunyi klakson mobil kearah sekumpulan anak-anak yang tengah asyik berebut layangan yang tersangkut di pohon.
Tapi untunglah satpam perumahan tadi sudah selesai dengan urusan baksonya, dan bersedia untuk menertibkan anak-anak itu hingga si mobil dapat lewat,lalu membiarkan mereka asyik dengan kebahagiaan mereka mengejar layangan lagi.
Pertanyaan berikutnya pun seketika itu pula muncul lagi dalam benakku yang kini sudah beranjak dari dudukku untuk pulang kerumah.
Diantara kebahagiaan-kebahagiaan kita sekarang ini, ingatkah kita siapa saja “satpam-satpam penolong” kita sehingga kita berhasil bahagia dan meneruskan kebahagiaan kita seperti sekarang ini?

Get Started

Akhirnya saya bulatkan tekad untuk membuat sebuah blog, gratisan sih, tapi ya lumayanlah untuk sekedar sebagai tempat melepaskan penat dan menuliskan suara-suara di kepala. 
Tujuan awalnya sih hanya sebagai tempat menyimpan apa yang selama ini sudah pernah saya tulis ke tempat yang lebih layak, kalau banyak yang suka ya syukur, kalau engga ya gapapa juga. ^^

Yah, Let's Get Started! (^o^)