Rabu, 31 Juli 2013

aku suka saat ini

Aku suka saat ini.

Setengah jam mungkin, bercengkrama hanya dengan pepohonan, gemericik air, segar rerumputan, musik folk yg sedari tadi ribut meminta perhatian di dalam headset yg tergantung di telinga, dan sedikit aroma walang sangit tewas.

Aku suka saat ini.

Saat rasanya hembusan angin seketukan nada dengan aliran darah di dalam tubuh. Tidak kencang. Mungkin gegara suara dayu Ebiet G Ade yg tetiba muncul dalam headset.

Aku suka saat ini.

Yg seakan aku bisa mendengar segala keluh kesah burung-burung ketika hari mulai senja. Dimana dua-tiga burung lain tampak mengotori langit sore ini yg biru jingga bening tanpa awan, terbang kesana kemari.

Aku suka saat ini.

Ketika imaji yg terbuat di dalam kepala saat aku menutup mata maupun membukanya, terlihat sama persis. Lapang. Berpuji kepada Tuhan.

Aku suka saat ini.

Saat-saat ringan melangkah menuju rumah setelah meninggalkan beban dan keluh bersama gemericik air dan hembusan angin tadi. Bersama rangkaian kata ini.

Aku suka saat ini.

Percayalah, mentari senja juga sedang melihatmu (first fanfiction for nichan jkt48)


"Nggak ada latihan nak?"
Suara itu terdengar begitu lembut di telinga Anissa. Terdengar menyejukkan di tengah kelut batinnya saat itu. Terasa masuk ke dalam telinga hingga tembus membasuh perasaannya yg kecewa.

"Nggak ada ma." jawabnya sebisa mungkin mengeluarkan suara bernada riang. Seperti layaknya bagian dirinya yg selalu dia tunjukkan di depan semua orang, Anissa yg periang.

"Terus, sekarang lagi ngapain? Kok nggak kedengaran ramai, biasanya setiap Nissa telepon mama, mama selalu susah dengar suara Nissa karena teman2nya Nissa ramai luar biasa."
"Nggak ma, Nissa lagi nggak sama teman2. Lagi mau sendiri aja, terus ingin telepon mama."
Masih, sebisa tenaganya, Nissa mencoba agar suaranya terdengar normal dan tidak bergetar, meskipun tangan kirinya, tangan yg tidak menggenggam telepon itu, hampir menyobek bagian bawah kaos bercorak anime One Piece bagus yg dipakainya saat ini, saking kerasnya dia meremas gemas menahan emosi yg dia tahan agar tidak keluar lewat suaranya.

"Ma, Nissa sebenernya masih mampu nggak sih ma disini, di jkt48?"

Anissa mulai terdengar kalah melawan keinginannya menahan emosi ketika berbicara dengan mama nya saat ini.

"Lho kenapa nak? Bukannya ini impianmu? Mama ya nggak tahu Nissa masih mampu bertahan atau nggak, kan yg menjalani semua itu Nissa sendiri. Nissa sendiri yg memilih untuk mengejar impian di jkt48 sampai pindah ke jakarta juga kan. Mama support Nissa terus kok. Emangnya ada apa nak? Berantem sama temen?"

Lagi Ma.. Kenapa cuman sebentar jawabnya, Nissa ingin mendengar jawaban mama... Batin Nissa terus berharap agar mama nya menghujani dia dengan bermacam wejangan, nasihat, peringatan, atau apapun itu. Barangkali diantara hujan kata-kata dari mama nya itu, Nissa bisa menemukan jawaban yg dia cari.

"Halo Nissa, kok diem aja?"

"Maaf ma..." kali ini suaranya benar-benar kalah oleh emosi, dan terdengar sangat bergetar, hampir menangis.

"Ma, kalau Nissa berhenti disini, mama bakal marah atau nggak?"

"Berhenti gimana nak? Dari jkt48? Dan kenapa mama harus marah ke Nissa? Kan sudah dari awal mama dukung apapun langkah Nissa. Yg mungkin buat mama marah, kalau Nissa berhenti nya itu tanpa ada perlawanan dan perjuangan apa-apa."

Jawaban itu sontak saja mengejutkan Anissa. Tangan kiri Nissa berhenti menarik bagian bawah kaos One Piece nya. Dia merasa mendapatkan apa yg ingin didengarkannya.

Perlawanan? Perjuangan? Anissa merenungkan dua kata dari mama nya itu. Bukan karena dia takut mama nya bakal marah, tapi memang dua kata itu terasa hilang dari kosakata hidupnya akhir-akhir ini.
Menegakkan kembali duduknya di kursi panjang di pinggir dermaga. Dermaga dengan pantai kotor penuh sampah sebenarnya, tapi dermaga itu, di kursi yg saat ini tengah didudukinya itulah spot favorit Anissa selama tinggal di Jakarta sekarang. Dari situ, Anissa bisa bernafas dalam semaunya, merenung dan menangis sebebasnya, tertawa dan menggambar sesukanya.

Kadang pula dia berimajinasi dibalik horizon laut lepas yg sering dia lihat, akan muncul sebuah kapal laut, kapal bajak laut tepatnya, dan kapal bajak laut Sunny milik Luffy, tokoh anime favoritnya, lebih persisnya lagi. Meski paham itu tidak mungkin, tapi Anissa tidak memikirkannya. Karena baginya, menyimpan imajinasi seperti itu, menyimpan impian-impian seperti itu lah yg membuatnya tetap ceria meski disaat seperti sekarang pun.

"Gimana sih ma, berjuang itu? Kemarin ada pengumuman pembentukan team K, ma. Dan Nissa nggak kepilih disitu. Nissa sekarang harus gimana coba? Pasti nanti kalau ada lagu baru atau event apa, Nissa pasti nggak diikutkan."

"Oh, jadi itu yg bikin Nissa nya mama galau. Ya nggak apa-apa nak. Kalau cuma itu, ya rebut lagi posisimu disana. Mama mungkin nggak tahu gimana persisnya yg terjadi di dalam sana, tapi yg mama tahu, Anissa Athia bukan anak yg mudah menyerah. Ingat dulu kamu yg bisa meyakinkan mama untuk ikut-ikutan temanmu pakai baju-baju aneh itu, apa namanya cosu...cos..apa itu kan?"

"Cosplay ma. Hihi."

Duduk Nissa kembali rileks. Kali ini dia bisa bersandar santai di kursi panjang itu. Melirik sebentar ke bagian kaos yg ditarik-tariknya sendiri dari tadi.

"Ya itu, cosplay. Mama kan juga nggak setuju dulu kamu pakai baju aneh gitu. Pake wig segala, apalagi yg waktu pakai baju cowok. Tapi toh Nissa bisa meyakinkan mama papa, sampai ikut lomba cosplay dan menang waktu itu."

Mendengar mama nya berbicara tentang cosplay, hobi yg sangat disukainya, membuat Nissa sejenak melupakan kesedihan dan emosinya. Dia bersyukur, menelepon mamanya merupakan hal tepat yg dia lakukan sore itu.
Setidaknya bisa mengurangi pikiran-pikiran negatif tentang ingin keluar dari jkt48, perasaan-perasaan iri kepada temannya yg terpilih. Nissa tidak bisa menyembunyikan perasaan kecewa dan iri itu, manusiawi. Karena itu dia memilih untuk menyendiri dulu sore ini.

"Tapi ma, bukannya itu berarti Nissa lebih jelek daripada temen yg kepilih?"

Entah kenapa, kini Anissa menyesali pemilihan kalimat yg baru saja keluar dari mulutnya itu. Membuatnya jauh lebih sedih dan terpukul.

"Bukan seperti itu. Nissa sudah baik, buktinya berhasil masuk jkt48. Hanya mungkin temen Nissa berlatihnya lebih keras dan intens daripada Nissa."

"....jadi Nissa, coba dengerin mama baik-baik. Nissa harus tahu, Nissa adalah cewek yg kuat, keras pendirian, kreatif, dan punya mimpi. Dan itu harus diperjuangkan. Kalau ada yg bikin Nissa sedih, ya dilawan. Tapi dilawan dengan cara positif, misalnya latihan lebih keras. Tunjukkan Nissa juga bisa, bahkan melebihi dari teman lain."

Anissa tersenyum. Bukan hanya karena saat ini dia juga tengah memperhatikan dua anak kecil lucu berkejaran di pinggir pantai, tapi lebih karena dia mendapatkan kembali apa yg hilang dari dirinya. Passion.

"Iya ma, kayaknya Nissa sudah tahu apa yg harus...."

Suara Nissa terhenti ketika tiba-tiba cahaya matahari senja menyorot tepat matanya, menembus rimbun dedaunan kelapa yg sebenarnya ada untuk memayungi area kursi panjang tempat dia duduk saat ini dari sinar matahari.
Disaat matanya belum pulih dari 'buta sesaat' akibat sorot matahari jingga itu, tepat dibawah posisi matahari yg hampir miring 45 derajat, di horizon laut lepas, seakan Nissa melihat sebuah kapal layar besar, dengan bentuk kepala singa di depannya. Kapal yg dari kecil sudah dia akrabi bentuknya. Kapal yg selalu dia impikan untuk datang ke dunia nyata. Sunny.
Kaget tentu saja, secepat itu pula Nissa berpindah posisi ke bagian lain dari kursi itu yg tidak tersorot sinar jingga, dan mencoba melihat lebih jelas apa yg tadi dilihatnya. Sunny.

Haha, tentu saja bukan.. Logika Nissa seketika berkata demikian, saat kapal layar yg tadi dilihatnya sebagai Sunny itu hanyalah kapal layar nelayan biasa. Terlihat besar akibat siluet yg memantul di laut karena perbuatan matahari senja yg miring itu. Dan se-jala besar ikan hasil tangkapan nelayan itu terlihat seperti berbentuk kepala singa jika diubah format gambarnya menjadi siluet.

"Nissa, kenapa nak, kok diem lagi?"

Suara mama nya membuyarkan salah paham yg menyenangkan yg barusan dialami Nissa.

"Engga ma.. Barusan pindah tempat duduk. Silau gara-gara matahari. Nissa sedang lihat matahari senja terbenam nih ma. Biar nggak terlalu sedih." jawab Nissa penuh semangat.

"Oh, melihat matahari. Dulu papa sama mama juga suka duduk-duduk sambil perhatiin matahari senja. Ada satu kalimat dari papa mu waktu itu yg masih mama ingat...."

"Apa itu ma?"

"Kamu boleh suka melihat mentari senja, karena itu memang indah. Tapi juga percayalah, bahwa mentari senja itu juga sedang melihat kearahmu, jadi berikan senyuman terbaikmu kepada mentari senja itu. Jangan sampai kalah indah dengannya."

Air mata yg tadi batal keluar ketika Anissa tengah bersedih, kali ini memberontak dengan liar tanpa bisa Nissa membendungnya. Terasa asin di pinggir bibirnya yg tengah tersenyum lebar, selebar senyum idolanya dari kecil, Luffy.
Lama dia tidak bisa membalas ucapan mama nya. Pertahanan Nissa jebol mendengar kalimat penguatan dari mama nya. Hingga akhirnya Anissa memilih untuk mematikan teleponnya saat itu juga, memberikan kesempatan bagi air mata nya untuk berderai keluar bersamaan dengan segala keluh, kesal, iri, dan sejenisnya itu yg sempat mengeruhkan jalan menuju impiannya.

Perlahan Nissa mencoba untuk menulis pesan sms untuk mama nya, meminta maaf karena menutup telepon dan berterima kasih untuk sore ini. Mama nya pasti mengerti dan mendengar isak tangisnya tadi.
Tersenyum sambil masih berurai air mata, Nissa mencoba membaca tulisan 'sent' di ponselnya, hanya untuk memastikan pesannya terkirim.

Sunny itu, yg membawa jala besar berisi ikan, semakin menjauh dari pandangannya. Pun begitu dengan mentari senja yg kini mungkin sudah miring 30 derajat. Lebih merah dari sebelummnya. Lebih indah dari sebelumnya.

Anak kecil yg berlarian tadi pun sudah digandeng ibunya. Dua-duanya menangis. Satu nya menangis karena habis dipukul sekop plastik, satunya lagi menangis karena dijewer ibunya yg marah. Dua anak menangis di tepi dermaga sore ini, tiga jika Nissa juga masuk hitungan, karena sampai saat ini dia belum juga berhasil menghentikan aliran air matanya.

Saat itu, dan seterusnya. Nissa tidak ingin dan tidak bisa untuk tidak berjuang melawan ketika ada apapun yg membuatnya jatuh dan sedih. Karena dia ingin, saat dia kembali bertemu dengan mentari senja dan menatap kearahnya, Anissa ingin mentari senja itu juga mengagumi keindahan senyum yg dia miliki. Tidak kalah indahnya dari mentari senja. Dan selalu akan terulang di setiap harinya.
~selesai~

Rabu, 06 Februari 2013

‘Seandainya’…


Akhir-akhir ini aku asyik dengan hobi baruku, yaitu menulis fiksi. Kegiatan yang sangat menyenangkan menurutku. Dimana kita bisa menciptakan dunia kita sendiri, mengatur jalannya hari-hari didalam dunia kita itu. Menciptakan sesuatu yang lebih indah daripada yang pernah kita alami.
Berbeda dengan proses tulisan-tulisanku sebelumnya yang mengharuskan aku untuk keluar dari rumah untuk mendapatkan hal-hal apa saja yang akan aku masukkan kedalam lembar-lembar tulisan.
Menulis fiksi ini seakan kita berada dalam dunia kedua selain dunia nyata kita.
Tapi juga bukan berarti menjadi penulis cerita fiksi membuat kita menjadi orang yang lebih suka bermimpi dan berkhayal dengan mengesampingkan kehidupan nyata kita. Justru sebaliknya.
Sama dengan kita bermain game, kita dapat memperjuangkan apa yang benar-benar kita inginkan, dengan hasil yang sudah pasti nyata. Karena terkadang di dunia nyata,ketika kita berusaha mati-matian akan suatu hal, hasil yang akan kita dapatkan belum lah tentu fair dengan apa yang kita perjuangkan. Banyak hal yang ikut mempengaruhi.
Menulis fiksi juga mengesankan kita mempunyai imajinasi yang berlebih dari orang kebanyakan. Dan itu justru bagus menurutku.
Bukan untuk membela diri sendiri, tapi orang dengan kemampuan imajinasi, kemampuan berkreativitas, maupun kemampuan untuk berkhayal sangat diperlukan di dunia kita yang serba eksakta sekarang ini.
Orang yang berimajinasi tinggi diperlukan untuk mengimbangi orang berintelektual tinggi dibidang eksak. Agar dunia ini tercipta keseimbangan.
Siapapun anda yang berpikir bahwa perkembangan di dunia ini hanya ditentukan oleh otak-otak dokter,professor,atau insinyur,siap-siaplah hancur dengan pikiran anda tersebut.
Tidak dipungkiri memang bahwa dunia membutuhkan intelegensi dari mereka-mereka tersebut. Tapi anda akan salah besar kalau merendahkan kedudukan para seniman,illustrator,filsuf,desainer,creator, dan bahkan penulis.
Dunia mencatat beberapa pengubah-pengubah dunia juga banyak dari kalangan seniman. Sebut saja salah satu contoh seniman pengubah dunia yang palin bersinar,yaitu Leonardo Da Vinci.
Anda bodoh kalau tidak menganggap Da Vinci dengan segala yang sudah ditemukannya bukan termasuk salah satu pengubah terbesar terhadap dunia yang kita tinggali saat ini.
Ada juga pengubah-pengubah dunia dari bidang kreativitas yang lain seperti yang dilakukan kelompok The Beattles, Michael Jackson, Elvis Preasley, dan hingga era Deep Purple serta Nirvana.
Contoh teranyar yang dari imajinasinya berhasil mengubah dunia adalah salah satu ‘bunda’ dari para penulis baru, yaitu JK Rowling. Sebelum dia muncul dengan Harry Potter nya,dunia tidak terlalu memandang serius dunia tulis menulis fiksi. Ketika itu dunia lebih memilih bacaan-bacaan yang lebih serius seperti auto-biografi atau bahkan masih ada yang memilih buku-buku filosofi sebagai bacaannya.
Lalu coba kita melihat kedalam negara kita sendiri. Sebagai negara yang memang sedang berkembang, pola pikir di masyarakatnya adalah bagaimana untuk mencapai tingkat pendidikan setinggi-tingginya. Kreativitas? Imajinasi? Mereka tidak terlalu peduli dengan pengembangan-pengembangan itu. Yang penting pinter,punya gelar pendidikan sebanyak-banyaknya,sudah cukup.
Coba lihat beberapa contoh dokter yang ada disekitar kita. Untuk anda yang bukan bekerja sebagai dokter, pernah tidak merasakan ketika anda pergi ke si dokter X, anda tidak dilayani dengan semestinya dokter melayani pasien.
Entah itu dari tata bicara si dokter X itu yang terkesan asal-asalan, terkesan menggurui pasien, sampai ada beberapa tingkah laku yang menunda untuk memeriksa pasien pada jam-jam sekian karena beliau sedang makan atau tidur!
Cara pandang yang tidak pernah berandai-andai ‘seandainya aku pasiennya’ yang dimiliki beberapa contoh oknum dokter tersebut juga membuktikan bahwa memang dia otaknya pintar,cerdas,mampu menghafal beribu-ribu jenis penyakit beserta gejala dan obatnya,tapi sangat lemah dalam merasakan. Tidak peka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengandung kata ‘seandainya’.
Tidak hanya berlaku untuk beberapa orang pintar dari latar belakang kedokteran, di dunia industri dan di dunia bisnis bahkan lebih banyak lagi. Mereka orang pintar,cerdas,tapi sayang kepekaan mereka terhadap kata ‘seandainya’ juga sangat lemah.
Coba saja kalau sebagian besar pengusaha kaya raya itu mau berpikir tentang ‘seandainya’, kita tidak lagi melihat banyak pengangguran,tidak lagi menemukan gelandangan-gelandangan di pinggir jalan,tidak lagi menemukan anak-anak berperut buncit karena kekurangan gizi.
Aku juga tidak mencoba untuk mengagungkan para pekerja imajinasi, kelemahan paling terlihat dari sosok seniman-seniman kita itu adalah seringnya mereka berjalan dengan hanya mengandalkan sensitivitas mereka,dan jarang sekali intuisi logika mereka digunakan. Terbukti hanya ada beberapa saja seniman di negara kita yang hidupnya termasuk ke golongan kaya raya,meskipun sebenarnya ada jutaan seniman yang karyanya sangat bagus.
Kembali ke cerita tentang fiksiku tadi, saat aku menuliskan bab ini fiksiku tengah berjalan sepanjang 80 halaman. Masih sedikit sekali memang, tapi bagiku itu tidak mudah, apalagi itu tulisan cerita fiksi pertamaku. Semakin banyak halaman yang tertulis, aku semakin salut dengan penulis-penulis fiksi seperti bunda JK Rowling. Bagaimana dia mengalahkan kemalasan-kemalasan untuk mencari plot cerita baru,untuk mencari nama-nama dari berbagai tokoh dan tempat dalam cerita fiksinya (dan menurutku itu adalah bagian tersulit dalam menulis fiksi!).
Terakhir, mungkin sedikit berbagi tips untuk penulis-penulis fiksi baru sepertiku, ternyata fiksi itu bukan hanya sekedar cerita yang bergantung pada khayalan dan imajinasi saja, tapi lebih terpenting lagi adalah bagaimana kita bisa menuangkan pengalaman-pengalaman pribadi kita sebagai dasarnya dengan disertai tambahan-tambahan lain yang menurut kita bakal bisa memperkaya cerita fiksi kita.
Jadi, bagaimanapun, mau kita sedang menulis cerita-cerita slice of life,fiksi,ataupun komedi, Let’s Go Out and Find Your Own Experiences!

Senin, 28 Januari 2013

Satpam Layangan

Sore ini tadi, tidak seperti biasanya, aku habiskan waktu dengan berjalan-jalan disekitar kompleks perumahan. Mencoba untuk melepas diri ke lingkungan sekitar yang memang tidak terlalu akrab buatku. Lucu sekali dimana terlihat beberapa anak kecil bermain sepeda, bermain jungle jim yang memang tersedia di beberapa sudut taman kecil. Ada juga pemuda-pemudi –mahasiswa tampaknya- yang sedang sibuk dengan laptopnya masing-masing.
Didekat pos satpam juga terlihat penjual bakso yang akur dengan dua satpam yang sedang asyik menyantap bakso, dimana seharusnya satpam-satpam itu dengan tegas memperingatkan si pedagang bakso bahwa tidak boleh ada pedagang yang masuk ke area kompleks perumahan. Contoh gamblang bahwa semangkuk bakso bisa membayar ketegasan penegak ketertiban.
Disisi lain yang lebih mempunyai ruang lebih lapang, terlihat tiga atau empat anak yang khusyu’ mendongak keatas memperhatikan layang-layang mereka yang berkibar ditiup angin yang memang cukup bersahabat bagi penyuka layang-layang karena tiupannya cukup kencang.
Aku akhirnya lebih memilih untuk menonton para “petarung-petarung” layangan itu daripada memperhatikan ekspresi satpam-satpam penikmat bakso, ataupun menyaksikan wajah-wajah lelah si mahasiswa yang kelihatannya sudah tidak nyenyak lagi disetiap tidurnya.
Teringat dulu waktu seumuran anak kecil itu,aku juga sering sekali bermain layangan. Tidak cukup jago untuk “membunuh” layangan lain,tapi cukuplah untuk sekedar bisa menerbangkan layangan dengan mudah, karena aku tahu tidak semua orang diberi gift untuk sekedar menerbangkan layangan… hehe..
Seru juga menyaksikan jagoan-jagoan cilik itu bertarung melawan angin, dan beberapa teman baru mereka yang baru tiba di tempat itu dan berusaha menangkap angin agar layangan mereka bisa terbang. Sedangkan anak lain yang layangannya sudah terbang sejak tadi pun mulai bandel dengan mulai mengincar jalur senar benang milik pelayang-pelayang lainnya.
Satu layangan berhasil dia putuskan senarnya. Dan dia terlihat sangat senang. Entah kenapa ia sesenang itu,padahal baru saja dia sudah mengambil kesenangan dari anak yang putus layangannya. Tapi begitu pun, selain dia mengambil kesenangan si pemilik layangan yang putus, namun dia sekaligus memberikan kesenangan baru untuk anak-anak lain disekitar untuk mengejar layangan putus tadi.
Dan bagi siapapun yang tidak pernah bermain layangan tapi mengeluhkan kelakuan anak-anak pegejar layangan putus, berarti anda melewatkan salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup sebagai anak kecil!
Sementara geli ku masih teruntuk anak-anak pengejar layangan yang berlarian kearah terbangnya si layangan putus, mata dan iba ku menangkap bagaimana perasaan si pemilik layangan putus tadi. Dia kini tertunduk lesu sambil menggulung senar benangnya yang dililitkan pada semacam kaleng bekas.
Tangannya menggulung senar,tapi matanya menatap nanar kearah layang-layang lain yang masih menari di langit. Sejenak dia merogoh sakunya, dan kembali tertunduk lesu. Mungkin dia ingin membeli layang-layang baru namun uangnya sudah habis.
Begitulah keadaan tanah lapang sore itu. Tidak istimewa mungkin bagi anda penggemar mall dan playstation. Tapi bagi mereka, itu adalah salah satu ukuran kebahagiaan.
Dimana kebahagiaan itu berwujud layang-layang.
Ada waktu ketika anak-anak kecil itu mencoba dengan susah payah untuk menerbangkan kebahagiaan mereka. Mereka harus berlari-lari melawan arah angin terlebih dulu. Ketika kebahagiaan mereka itu sudah mengangkasa, ada waktu juga bagi anak-anak itu untuk berusaha mempertahankan kebahagiaan mereka agar tetap terbang tinggi.
Pun juga ada waktu ketika kebahagiaan mereka terenggut paksa oleh kebahagiaan orang lain. Ada anak yang mencapai kesenangan pribadinya dengan cara berusaha untuk memutuskan layang-layang milik anak lainnya, memutuskan senar kebahagiaan anak-anak lainnya. Kita tidak bisa menyalahkan si pemutus layangan, karena itu merupakan ukuran kebahagiaan untuk dirinya
Sedangkan bagi anak-anak yang putus layangannya,dia bisa satu step lebih maju dari si pemutus layangan, yaitu bisa belajar bagaimana cara mengikhlaskan kebahagiaan yang sudah terlanjur terlepas. Dan berusaha untuk tidak meratapinya terlalu lama. Dibalik sedihnya, sebenarnya dia mendapatkan lebih banyak hal positif.
Sejam aku duduk dipinggir jalan untuk memperhatikan mereka semua. Si pemutus layangan, Si anak yang layangannya putus, dan beberapa pengejar layangan putus.
Mungkin di pikiran sekelompok anak yang mengejar layangan putus itu, mereka sedang melakukan usaha untuk mendapatkan kebahagiaannya masing-masing.
Lalu tidak salah bukan kalau kita sedikit melihat kembali kedalam hidup kita, kedalam kebahagiaan-kebahagiaan kita. Apakah kita mendapatkan kebahagiaan kita itu dengan cara berusaha sendiri layaknya anak-anak yang sedang sibuk berkeringat untuk menerbangkan layangannya itu?
Atau apakah kebahagiaan-kebahagiaan yang kita dapatkan sekarang ini adalah hasil dari menikung kebahagiaan orang lain, seperti yang dilakukan si anak pemutus layangan tadi?
Pertanyaan berikutnya, apakah kita siap untuk berbesar hati dan ikhlas menerima jika sewaktu-waktu kebahagiaan kita lepas? Jika memang lepas, dan memang dikarenakan oleh orang lain yang menikung kebahagiaan kita, apakah kita akan berjuang berlarian untuk mendapatkan kebahagiaan kita itu kembali, atau hanya megikhlaskan dan mencari kebahagiaan dalam bentuk lain seperti yang dilakukan si anak yang layangannya putus?
Hingga akhirnya, apakah kita bersedia untuk saling sikut dengan orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan kita, seperti beberapa anak yang berebut untuk mendapatkan layangan putus yang kini tersangkut di pohon itu?
Aku hanya tersenyum melihat berbagai pertanyaan itu melintas di pikiranku. Masih melamunkan apa yang kira-kira akan aku jawab, hingga tersadarkan oleh bunyi klakson mobil kearah sekumpulan anak-anak yang tengah asyik berebut layangan yang tersangkut di pohon.
Tapi untunglah satpam perumahan tadi sudah selesai dengan urusan baksonya, dan bersedia untuk menertibkan anak-anak itu hingga si mobil dapat lewat,lalu membiarkan mereka asyik dengan kebahagiaan mereka mengejar layangan lagi.
Pertanyaan berikutnya pun seketika itu pula muncul lagi dalam benakku yang kini sudah beranjak dari dudukku untuk pulang kerumah.
Diantara kebahagiaan-kebahagiaan kita sekarang ini, ingatkah kita siapa saja “satpam-satpam penolong” kita sehingga kita berhasil bahagia dan meneruskan kebahagiaan kita seperti sekarang ini?

Get Started

Akhirnya saya bulatkan tekad untuk membuat sebuah blog, gratisan sih, tapi ya lumayanlah untuk sekedar sebagai tempat melepaskan penat dan menuliskan suara-suara di kepala. 
Tujuan awalnya sih hanya sebagai tempat menyimpan apa yang selama ini sudah pernah saya tulis ke tempat yang lebih layak, kalau banyak yang suka ya syukur, kalau engga ya gapapa juga. ^^

Yah, Let's Get Started! (^o^)