Sabtu, 11 Januari 2014

Cicak - Cicak di Dinding (fanfict inspired by @achanJKT48)

Aku Citer, seekor cicak yang ingin berusaha berbagi cerita dengan kalian para manusia yang baik hati.

Oh, kalian heran kenapa seekor cicak bisa menulis tulisan dengan bahasa manusia? Sebenarnya kami, bangsa cicak, memiliki bahasa kami sendiri, bahasa cicak. Kami memiliki kesadaran berbahasa, dan kebetulan aku gemar sekali belajar bahasa manusia, jadilah aku bisa berbahasa manusia.

Mungkin cicak-cicak lain juga ada yang bisa berbahasa manusia, ada juga yang tertarik mempelajari bahasa ayam, bahasa kambing.

Tapi menurutku, mayoritas cicak yang aku tahu itu berkegiatan berdampingan dengan manusia, jadi aku berpikir belajar bahasa manusia mungkin akan jauh lebih berguna bagiku.

Ngomong-ngomong, kalau kalian ingin belajar bahasa cicak, cari aku saja, akan aku ajarkan.

Oke, kita lanjutkan lagi. Bukan bermaksud sombong, tapi aku dan cicak dari klan Cecarota lain bisa dibilang sebagai cicak yang high-class.

Karena apa? Dibanding klan-klan cicak lain didaerah ini, kami bertempat tinggal di sebuah mall, FX Sudirman Mall. Ya, klan kami sudah turun temurun menguasai mall ini, sejak mall ini dibangun beberapa tahun lalu.

Dan sejak itu, banyak generasi dari klan Cecarota sudah memiliki bermacam kisah di sini. Banyak generasi, karena siklus hidup cicak cuma kurang lebih dua tahun, jadi Cecarota saat ini memasuki generasi ke lima . Aku termasuk generasi ke lima.

Aku lahir sekitar setahun yang lalu, dari tujuh telur, hanya empat yang menetas, yaitu aku dan tiga adikku, Cipas, Citu, dan Cigon.

Proses kelahiran ini yang menarik, karena aku bisa mengingat dengan jelas momen-momen ketika sadar dan berusaha untuk keluar dari cangkang telur itu karena aku mendengar suara, yang dikalangan manusia dikenal sebagai 'musik'.

Kami para cicak memang dianugerahi kesadaran sesaat sebelum keluar dari cangkang telur.

Kemudian, musik itulah yang aku anggap sebagai penuntunku untuk akhirnya hidup di dunia dan melihat dunia yang indah ini.

Keluargaku, kebagian petak tempat tinggal di lantai empat dari FX Mall ini. Lantai yang ramai sekali, mungkin yang teramai dari seluruh lantai di mall. Dan itulah kenapa aku jadi lancar berbahasa manusia, karena aku sering memperhatikan manusia-manusia yang ada disini.

Namun, menurut cerita orangtuaku, dulunya petak tempat kami tinggal ini hanyalah sebuah ruang kosong dan berantakan. Baru sekitar dua tahun lalu, jaman-jaman orangtuaku masih pacaran, beberapa dari kalian, manusia, memutuskan untuk membangun sesuatu dari ruang ini.

Awalnya orangtua menentang itu, karena khawatir sisi tembok ruang, tempat keluargaku tinggal, akan ikut dibongkar. Orangtuaku bahkan sudah melapor ke tetua klan Cecarota, tapi tidak ada tindakan yang berarti dari para tetua.

Orangtuaku pun pernah suatu waktu melawan ke manusia-manusia yang sedang bekerja merombak ruang ini, dengan membuang -maaf- kotoran kearah mereka, tapi itu pun tidak begitu banyak membantu.

Yah, mau bagaimana lagi, kami kan memang spesies kecil. Hanya itu yang mampu kami lakukan.

Tapi pada akhirnya, tembok tempat tinggal kami tidak ikut kena perombakan. Mungkin hanya beberapa paku dan bor yang sedikit mengganggu tempat tinggal kami, tapi itu sudah tidak lagi menjadi masalah bagi kami.

Ruang yang dulu kosong itu sekarang berubah menjadi menarik. Secara keseluruhan, ruangan ini dibagi dua, dengan sekat seperti kain. Di satu sisi ada panggungnya dan ada kursi-kursi yang berderet (disana adalah tempat favoritku mencari makan, karena dibawah deretan kursi itu banyak sekali nyamuk).

Dan sisi lain, tempat tembok tempat tinggalku berada, terkesan berantakan dengan kain, yang dalam bahasa manusia disebut baju, dan manusia-manusia yang sibuk sekali.

Aku bersama adik jantanku, Cigon, suka sekali memperhatikan kesibukan manusia di sisi ruang yang berantakan ini. Sedangkan dua adik betinaku, Cipas dan Citu lebih suka di sisi lainnya, karena dari sana mereka bisa melihat manusia-manusia betina yang bergerak-gerak indah (dan kalau tidak salah, bahasa manusianya adalah 'menari'), dan suasana ruang yang temaram romantis dengan berbagai cahaya lampu yang indah.

Ah, betina memang suka dengan hal-hal sentimentil seperti itu kan.

Aku bukannya tidak suka dengan sisi ruang yang temaram itu, aku suka, aku juga suka melihat manusia betina yang cantik-cantik sedang menari di panggung. Aku hanya tidak terlalu suka dengan kerumunan manusia yang duduk dikursi. Mereka sering berteriak-teriak! Disela musik, atau setelah manusia betina di panggung itu selesai menari. Aku suka musik manusia, tapi tidak suka teriakan mereka.

Beberapa dari mereka juga berbau tidak sedap. Aku disitu baru sadar kalau manusia ternyata memiliki mekanisme mengeluarkan bau tidak sedap, seperti teman-temanku dari spesies walang sangit.

Jadi kalau aku ingin melihat tarian di atas panggung, aku selalu melihat dari atap dibalik lampu sorot. Dari sana, suara teriakan dan bau tadi tidak begitu mengganggu.

Mengenai manusia betina tadi, ada satu manusia yang akhir-akhir ini selalu aku perhatikan. Dia cantik, sama seperti manusia penari yang lainnya disana. Dia sering berada di depan cermin, dan meniru bebek, dengan memajukan bibirnya, lalu berpose di kamera.

Menurutku dia adalah manusia yang memahami perasaan makhluk hidup lainnya, buktinya dia suka sekali menirukan bibir bebek, dan aku bahagia bisa melihat manusia seperti dia. Seakan-akan, persetaraan spesies yang aku impikan dari dulu, terlihat tidak mustahil setelah melihat dia.

Dia juga sering aku lihat sedang tertidur. Mungkin yang paling sering tertidur daripada manusia-manusia lain diruangan itu. Ketika tidur, wajahnya masih tetap cantik. Aku sering memperhatikannya tertidur dari atas atap ruangan. Sesekali menjaganya dari nyamuk, sekaligus aku juga mencari makan.

Hari demi hari, aku jadi lupa bahwa disana ada banyak manusia cantik lainnya. Yang aku perhatikan hanya dia.

Suatu hari aku penasaran, ketika di suatu lagu, manusia-manusia penonton meneriakkan kata 'ayana-ayana-ayana' kepada dia. Setelah beberapa waktu kemudian, aku baru sadar, namanya adalah Ayana. Aku beberapa hari, beberapa minggu, dan beberapa bulan terakhir selalu memperhatikan Ayana.

Dia masih suka menirukan bibir bebek ketika di depan kamera, sering datang ke ruangan tempat tinggalku ini paling pertama diantara manusia penari lainnya.

Kalau saja Ayana adalah cicak betina, pasti aku sudah mengajaknya ke tetua klan untuk menikah dan bertelur bersama. Tapi semua itu mustahil, karena kita dipisahkan oleh jenjang spesies.

Jadilah aku hanya bisa melihat Ayana dari jauh, dari balik tembok, dari balik lampu sorot, kadang dari balik kipas angin yang aku akui berada di balik kipas itu sangat menegangkan. Aku bisa saja tersedot dan tercincang oleh kipas, kalau saja kakiku tidak memiliki perekat!

Pernah suatu hari, Cigon, yang memang masih kecil dan paling bandel diantara saudaraku yang lain, bermaksud iseng pada Ayana. Cigon bersembunyi dibalik baju yang akan dipakai Ayana yang sedang digantung di salah satu tembok.

Aku yang mengetahui adanya Cigon dibalik baju yang akan dipakai Ayana, akhirnya memberanikan diri jatuh tepat didepan kaki Ayana, hanya untuk membuatnya kaget dan tidak jadi memakai baju itu.

Aku rela dibenci dan diteriaki jijik oleh Ayana. Tapi saat itu, aku lakukan hal itu pun demi dia.

Mungkin saat ini, aku sedang dilanda apa yang dinamakan cinta oleh manusia.

Padahal aku tahu, rasa suka yang berbeda spesies ini adalah tabu, bahkan lebih tabu daripada rasa cinta berbeda agama milik manusia.

Tapi apa mau dikata kalau cinta sudah melanda.

Saat ini umurku sudah setahun lebih. Yang artinya, mungkin sebentar lagi ajalku akan tiba, menyusul orangtuaku. Siklus hidup cicak kan memang paling lama hidup dua tahun. Ketika umur sudah setahun lebih begini, kami sudah harus mempersiapkan mental menghadapi kematian. Kami juga harus mulai berpikir mencari pasangan dan bertelur bersama untuk membentuk keluarga baru, generasi baru.

Aku sadar, tidak mungkin aku berpasangan dengan manusia cantik yang aku dambakan selama ini, Ayana. Oleh karena itu, aku memilih untuk tidak mencari pasangan sesama cicak lain, hanya demi menjaga cintaku pada Ayana.

Di salah satu hari pun, aku pernah merayap jauh dan melelahkan ke lantai lima, hanya demi Ayana.

Saat itu, ruangan tempat tinggalku yang biasanya ramai dimalam hari, mendadak sepi. Aku terheran-heran. Sesaat setelah itu datanglah temanku, cicak dari teritorial lantai lima datang ke tempatku. Dia bercerita bahwa di salah satu tv di lantai lima, dia melihat info bahwa grup manusia penari yang didalamnya juga tergabung Ayana, akan tampil di salah satu acara tv, sejam dari sekarang.

Temanku tadi, bernama Cipog, juga sama sepertiku, dia paham bahasa manusia, karena rumahnya berada di tembok dibalik tv yang terpasang di lantai lima. Dari tv itulah, Cipog banyak belajar bahasa manusia.

Serta merta saat itu juga aku dan Cipog bergegas ke lantai lima. Normalnya kami hanya perlu merayap ke tombol lift, dan menyelinap masuk lift untuk sampai ke lantai lima.

Tapi dasar aku yang fobia dengan lift, karena pernah melihat salah seekor cicak dari klan ini yang tinggal di lantai dua mati tergencet pintu lift, aku lebih memilih untuk merayap melalui lubang pendingin ruangan untuk bisa ke lantai lima.

Saluran pendingin ruangan yang panjang berkelok-kelok, dan tentu saja dingin, aku lalui demi bisa melihat Ayana di tv.

Meski saat itu Ayana hanya sesekali saja disorot oleh kamera tv, tapi aku tetap puas bisa melihat Ayana lagi.

Lalu di penampilan manusia penari dan Ayana, di panggung ruang tempat tinggalku itu, aku juga hanya memperhatikan Ayana. Saat manusia penonton meneriakkan nama 'ayana-ayana-ayana' di awal suatu lagu, tanpa sadar aku juga berteriak sama. Tapi aku berteriaknya dalam bahasa cicak, yang mungkin bagi manusia hanya terdengar sebagai 'cek-ck-cek' begitu saja.

Aku pernah mencoba untuk menuliskan surat untuk Ayana, dan memasukkan surat itu ke dalam sebuah kotak, persis yang dilakukan oleh manusia penonton setelah pertunjukkan berakhir. Tapi oleh salah satu manusia yang tidak berambut, yang menjaga kotak itu, aku malah hampir dilempar sapu.

Ada satu lagi manusia yang aku hindari di ruangan itu. Manusia yang berbadan gemuk, berambut cepak, dan memakai sesuatu seperti kaca di matanya. Kenapa aku menghindari dia? Karena setiap kali dia melihatku, atau saudara-saudaraku, manusia gendut itu selalu berteriak jijik dan mengacung-acungkan sapu dengan liar kearahku.

Tentu saja aku takut dengan perlakuan seperti itu, padahal waktu itu aku hanya ingin mencari tahu Ayana ada dimana.

Memang susah menyukai sesuatu tapi banyak sekali yang tidak setuju.

Kadang aku bertanya-tanya, kenapa aku tidak diciptakan sebagai manusia, atau Ayana diciptakan sebagai seekor cicak.

Cinta beda spesies, cinta yang bertepuk sebelah tangan, yang ironis sekali karena aku sebenarnya memiliki empat tangan.

Semoga kalian para manusia tidak terjerumus kedalam lubang sengsara tiada akhir ini. Menurutku, masalah cinta beda agama yang manusia alami itu bukanlah apa-apa dibanding yang aku alami, cinta beda spesies.

Begitulah cerita yang ingin aku sampaikan untuk kalian para manusia. Walaupun mungkin diantara kalian para manusia ada yang tidak percaya dengan tulisanku ini, bahkan kalau ada yang tidak percaya bahwa cicak bisa mengerti bahasa manusia, percayalah.

Aku harap tulisanku ini bisa membuka pikiran manusia-manusia yang jijik kepada spesies kami. Karena jujur saja, kalian manusia tidak perlu jijik kalau bertemu kami. Kami para cicak, justru yang kabur apabila bertemu kalian para manusia. Kami malu bertemu kalian, karena spesies kami masih belum menemukan bagaimana caranya membuat baju untuk menutupi tubuh kami, layaknya kalian para manusia.

Mungkin, entah di generasi keberapa dari klan kami atau klan-klan lain yang masih satu spesies dengan kami, cicak, suatu saat bisa menemukan cara untuk membuat baju. Ketika saat itu tiba, aku harap, spesies cicak dan spesies manusia bisa lebih berkomunikasi, karena sebenarnya beberapa dari kami mengerti bahasa manusia.

Terakhir, kalau memungkinkan, tulisan ini juga sampaikan pada Ayana. Pesankan pada dia, untuk tetap semangat, dan percaya bahwa banyak manusia yang sayang kepadanya, bahkan aku pun juga salah satu fansnya.

Cukup sekian, para manusia. Terima kasih sudah membaca. Kalau sempat, mampirlah ke teritori keluargaku di lantai empat mall FX Sudirman. Mungkin kalian tidak akan menemukan generasi cicak dari keturunanku (karena aku memutuskan untuk tidak berpasangan), tapi akan ada generasi-generasi dari keturunan saudara-saudaraku. Tempat tinggal keluargaku mudah ditemukan, salah satu sudut ruang di lantai empat yang memiliki tulisan "JKT48 Theater" di pintu masuknya.

Sekali lagi, terima kasih, para manusia yang baik hati.

Salam,

Citer

(author: @PradanaAnandya)

Selasa, 03 Desember 2013

Design For Life (fanfict inspired by @VeJKT48)



Cewek itu masih disana dengan buku bacaannya, meski dia tahu pikirannya sudah tidak lagi di buku yg tengah dihadapinya sejak cowok itu duduk dua bangku didepannya, dan bersenda gurau dengan dua kawannya.

Cowok itu tersenyum ketika salah satu dari dua kawannya melontarkan canda, meski dia juga tahu senyumnya bukan karena itu tapi lebih disebabkan oleh aroma parfum mahal yg dikenakan oleh cewek stylish namun pemalu yg duduk dua bangku dibelakangnya.

Mereka berdua sama penasaran dan ingin berkenalan, tapi sama gengsi untuk menjadi yg pertama mengambil tindakan.
Cewek itu dengan bukunya dan beberapa pandangan sinis-mungkin iri-dari beberapa sesama jenisnya di kelas itu, dan cowok itu yg berada di tengah dua kawan kanan-kirinya yg cerewet tapi kalah jauh pesonanya. Keduanya terlihat gelisah.

Padahal sudah hari ketiga, umur dari kelas yg mereka berdua tempati, tapi diantara mereka masih saling belum berbicara. Yg cewek, fashionable tapi terlihat berkawan akrab dengan buku-buku filosofi, sehingga membuat keder. Yg cowok, rupawan, tapi terlalu diam dan misterius untuk menanggapi guyonan mahasiswa yg sering dilontarkan dua kawan setia yg selalu bersamanya.

Sama-sama bertemu di kelas desain grafis, mimpi cewek dan cowok itu sama, ingin menggores sebanyak mungkin kertas dengan imajinasi mereka. Hanya bedanya, cewek itu pesohor. Sedangkan cowok itu anak tukang bor.

Ya, pesohor, artis. Performer. Calon desainer. Embel-embel yg melekat di atas kepala cewek itu. Sedangkan, pemimpi besar, dan bertampang rupawan, tapi anak tukang bor, adalah biodata yg tertera di setiap otak orang yg mengenal cowok itu.

"Aku berteman dengan siapa saja kok," sambil matanya yg berkacamata itu melihat kearah tiga tumpukan buku yg masing-masingnya bertulis nama William Ockham, Francis Bacon, dan Thomas Hobbes. Yg membuat siapapun keder berteman dengan si pesohor.

Cowok itu pun juga begitu, sepertinya dia juga salah telah menanyakan apakah cewek itu mau berteman dengannya. 

Artis. Berteman-imaji dengan nama-nama yg bahkan dia tidak tahu wajahnya. Bacon, Hobbes, Ockham.
Tersenyum simpul, si cowok perlahan menjauhi si cewek setelah untuk pertama kalinya di kelas itu mereka berbicara bertatap muka.

"Tunggu! Kenapa?" Ucap si cewek getir.

"Tidak apa, aku lihat matamu masih tertuju pada tumpukan buku itu. Mungkin aku yg mengganggu waktu membacamu." Jawab si cowok, tak kalah getir.

"Aku tidak terlalu memiliki teman disini. Tidak bisakah kau berbicara denganku sedikit lebih lama?" keluh si cewek. Tapi kalimat itu hanya keluar dari sorot matanya, bukan mulutnya yg kini hanya tersenyum kecil. Si cowok menjauh lagi untuk hari itu. Entah berapa hari lagi mereka akan berbicara seperti tadi.

Sudah satu lembar kalender, dari dua belas lembar, berganti di kelas itu. Kelas itu juga seolah sudah menampakkan jati diri aslinya yg ternyata adalah 'ruang penyiksaan' bagi siapapun yg duduk dibangkunya. Beberapa mahasiswa gugur sakit akibat terlalu sering dan belum terbiasa terjaga sepanjang malam. Tapi anomali bagi si pesohor dan si anak tukang bor. 'Ruang penyiksaan' ini layaknya panggung pentas bagi mereka berdua.

Desain mereka dipuji. Tugas mereka rapi. Waktu tidur mereka tidak rugi. Si anak tukang bor senang, si pesohor lebih lebih lagi.

Sudah menjadi kekaguman bersama di kelas itu, si pesohor yg sering mengajukan izin absen, yg selalu latihan malam sepulang kuliah, masih bisa menjadi bintang. Sama halnya dengan si anak tukang bor. Anak tukang bor yg tidak memiliki laptop, yg pallet warnanya sudah bengkong karena tidak pernah ganti, yg sebagian besar crayon nya sudah tinggal separuh batang, yg kertasnya selalu terlihat paling murah diantara sekelas, terangnya tidak kalah dibanding si pesohor.

Pernah suatu waktu si pesohor mencoba untuk membuka percakapan dengan si anak tukang bor. Percakapan yg hanya berumur 1 menit. Karena si pesohor tidak tahan dengan tatapan risih dari cewek lain dikelas ini yg iri dengannya berbicara kepada si anak tukang bor nan rupawan.

Keduanya pernah disatukan dalam sebuah diskusi yg membahas kehidupan. 'Life'. Bukan membahas yg macam-macam, hanya untuk tugas desain mereka. Tapi mereka berdua tahu, cakupan sebatas tugas kuliah tidak akan cukup menampung letupan-letupan gagasan mereka berdua tentang 'life'. Kadang meninggalkan teman-teman se-tugas mereka demi bisa lebih bertukar pikiran.

Meski begitu, si pesohor masih ragu untuk sekedar bertanya nama atau memberitahukan namanya kepada si anak tukang bor. Sudah sebulan lebih mereka berdua saling sapa, kadang saling bicara, tanpa tahu siapa namanya.

Pagi yang biasa di hari yang biasa pada kelas yang biasa mereka bertemu. Kali ini sedikit tidak biasa karena Tuhan berkehendak lewat perantara bernama 'kebetulan', mempertemukan si pesohor dan si anak tukang bor itu. Kelas sudah hampir penuh dan hanya menyisakan satu kursi bagi si pesohor yang telat karena kesibukannya. Satu kursi tepat disamping si anak tukang bor.

"Sedang sibuk kerjanya?" tanya si anak tukang bor berbasa-basi pengecut. Frasa 'basa-basi pengecut' mungkin jika dinyatakan dalam ilustrasi, adalah ketika kau berbicara pada seseorang tanpa berani menatap matanya.

"Iya. Kemarin sampai malam, ada show." Jawab si pesohor yang juga tidak kalah pengecutnya.

Mereka berdua sama-sama pengecut, tapi entah kenapa di benak masing-masing, ke-pengecut-an itu terlihat sangat gentle dan imut.

"Tugas?"

"Ah iya, sudah selesai. Sehabis show aku langsung mengerjakannya."

"Tidak capek? Seharusnya istirahat saja, toh pihak kampus juga sudah tahu dan maklum."

"Tidak bisa begitu. Aku yang tidak mau kalau diperlakukan berbeda dengan mahasiswa lainnya."

Jawaban dari si pesohor itu tak pelak mengundang senyum kagum di mulut si anak tukang bor. Dia lega, wanita bak cleopatra yang duduk disebelahnya saat ini tidaklah jauh dari dimensi kehidupannya. Si pesohor itu masih manusia biasa. Atau lebih tepatnya manusia luar biasa karena keinginannya menjadi manusia biasa walaupun dia berstatus pesohor.

Sepanjang hari itu mereka berdua duduk bersebelahan. Sebenarnya sudah banyak kursi lain yang sudah kosong, tapi alasan ingin dekat pendingin ruangan, membuat si pesohor tidak ingin beranjak dari sebelah si anak tukang bor. Alasan minor yang diungkapkan untuk menutupi alasan major.

Tapi tetap saja, tidak ada step yang berkembang dari sana meskipun mereka berdua ingin berkenalan lebih jauh. Mungkin seperti yang dikatakan salah satu penulis, ketika si terlalu kaya bertemu dengan si terlalu miskin ada titik kritis yang menyebabkan keduanya menjadi krisis apresiasi. Atau mungkin juga ini tidak terlalu serumit itu.

"Kau tahu mereka ini?" tanya si pesohor disuatu sela mata kuliah. Mata dan tangannya mengarah ke tumpukan buku yang dia bawa. Bacon, Hobbes, Ockham.

Namamu saja aku masih belum tahu, bagaimana aku bisa tahu mereka siapa? Si anak tukang bor ingin sekali menjawabnya dengan kalimat itu, meski yang keluar dari mulutnya berupa kalimat, "Kalau Bacon yang tertulis disitu bukan merupakan daging asap, berarti aku tidak tahu siapa mereka itu."

"Hahaha... Oh, bukan bukan, ini Bacon, Francis Bacon. Filsuf. Bukan bacon daging asap." Si pesohor tertawa renyah mendengar celetukan yang disampaikan oleh si anak tukang bor. Serenyah kerupuk rempeyek pada nasi pecel menu sarapan si anak bor itu tadi pagi.

Si pesohor sudah mulai terbiasa tidak menghiraukan tatapan-tatapan iri dari seluruh cewek di kelas kala dia berbincang akrab dengan si anak tukang bor, cowok paling menjadi pusat perhatian di kelas. Yang ada dipikiran si pesohor adalah, dia ingin sekali mempunyai teman di kelas itu. Dan pilihannya jatuh pada si anak tukang bor. Satu-satunya cowok yang berani mendekatinya disaat tiga "bodyguard" nya, Bacon, Ockham, dan Hobbes, dengan seramnya membuat keder siapapun yang ingin mendekati si pesohor.

"Aku tidak terlalu mengikuti filosofi dan filsuf. Aku tidak paham."

"Oh, kalau begitu, apa yang kamu suka? Buku apa yang sedang kamu baca?"

Perubahan sikap ditunjukkan oleh si pesohor. Dan pemilihan kata "kamu" untuk menggantikan kata "kau" sebagai panggilan untuk orang kedua, tampaknya berbuah dengan mencairnya kekakuan diantara mereka berdua.

"Aku..tidak terlalu sering membaca buku. Mana cukup uangku untuk membeli buku? Kamu tahu kan, aku harus bertahan hidup di kota ini sebagai anak tukang bor, dan itu tidak gampang," jawab si anak tukang bor dengan berusaha tidak menampakkan kegetiran di tiap nada suaranya.

Kembali, kekakuan yang sebelumnya hilang kini muncul lagi. Si pesohor merasa terlalu bodoh untuk bertanya seperti tadi, dan si anak tukang bor menyesal telah memutus bahan pembicaraan dengan cara yang sama sekali tidak elegan barusan.

Dan berakhirlah 'kebetulan' di hari itu.


                                 ***
 
"Pagi."

"Pagi juga."

Saling sapa diantara mereka terdengar janggal, karena tanpa menyebutkan nama masing-masing. Keduanya masih terlalu pengecut untuk saling mengenal lebih jauh.

Dan hanya itu percakapan yang terjadi untuk setengah hari itu. Sampai ketika dosen desain grafis mereka mengumumkan akan diadakan lomba desain tingkat nasional yang diadakan di kampus mereka sebulan dari sekarang.

Lomba itu khusus untuk mahasiswa jurusan desain grafis. Berformat team, satu team berisi dua orang. Mengangkat tema 'Life'.

Bak terpicu oleh remote control yang berfrekuensi sinyal yang sama, keduanya, si pesohor dan si anak tukang bor saling menatap kearah masing-masing. Ini kesempatan bagi keduanya.

Dan juga sepertinya dosen mereka terpicu oleh remote control yang sama, ketika tiba-tiba dosen itu berkata, "Akan sangat seru kalau dua orang terbaik di kelas ini bergabung jadi satu team." Jelas sekali dosen itu merujuk pada si pesohor dan anak tukang bor itu.

"Kamu mau jadi teamku untuk event itu?" tanya si anak tukang bor duluan ketika kelas sudah selesai.

Kau tidak perlu tanya itu bodoh, justru aku yang ingin jadi teammu! Si pesohor hanya menjawabnya dengan anggukan.

"Tapi, mungkin kita tidak bisa terlalu sering untuk brainstorming bersama. Aku ada pekerjaan."

"Oh, aku sepenuhnya paham akan hal itu. Tenang saja, itu sudah masuk dalam daftar kemungkinan resiko yang akan aku hadapi begitu aku mengajakmu dalam event ini."

Perasaan si pesohor sedikit tersinggung tapi bisa menangkap maksud dari kata-kata dari si anak tukang bor.

"Bagaimana menurutmu? Tema event ini?"

"Menarik. Dan luas." jawab si pesohor antusias.

Mereka berdua sama-sama antusias. Sedikit untuk event yang akan mereka ikuti ini, lebih massive untuk antusiasme akan waktu-waktu yang bakal mereka habiskan bersama. Berdua.

                               ***

"Mungkin, bisa seperti ini..." si anak tukang bor menatap secarik kertas gambar A4 di meja. Kertas gambar ketiga yang sudah ternoda oleh ide-ide si anak tukang bor.

Pada kertas itu tergambar sebuah pohon. Rindang. Tapi berdaun wajah manusia dalam berbagai ekspresi. Kertas lainnya malah lebih unik, ada awan dengan berbagai macam karakter yang menemani awan itu, yang satu lagi kertas bergambar lebih abstrak. Beberapa kertas kecil bergambar seperti mural dan grafiti yang sering kita jumpai di kolong-kolong jembatan, namun dalam skala kualitas yang jauh lebih bagus, terlihat berceceran hingga ke lantai dekat tempatnya duduk.

Si anak tukang bor memang terkenal sebagai sosok kreatif. Desain dan goresan pensilnya selalu menarik perhatian orang, walaupun sering kali orang yang tertarik tadi tidak paham apa yang dimaksud oleh gambar itu.

Sementara dua sahabat cowok dari si anak tukang bor itu berada di sampingnya. Memberikan ide semampu mereka. Ide yang sia-sia sebenarnya, karena level ide yang keluar dari mereka berdua jauh dibawah alam kreativitas sang anak tukang bor.

Si pesohor, hari ini tidak masuk kelas. Ada perform di tv, begitu bunyi surat izin yang tadi pagi dibacakan oleh dosen.

"Kau sudah menemukan idenya?" tanya salah seorang sahabat si anak tukang bor itu.

"Belum. Hanya sebatas ini. Aku tidak begitu tahu 'Life' seperti apa yang diinginkan. 'Life' dalam ingatan dan pengalamanku adalah yang jelek, tidak indah. Mungkin nanti aku akan minta pendapat dia, aku yakin artis itu sudah pernah melihat 'Life' yang indah-indah."

"Jadi, kau belum tahu namanya? Dia terkenal sekali, dia salah satu personil JKT48 itu kan? Namanya adalah Je..."

"Ah! Simpan itu untuk nanti, kawan! Biar aku sendiri saja yang bertanya langsung padanya. Seseorang spesial harus di-treatment secara spesial juga, benar kan? Biar saja begini dulu, aku masih menikmati berbicara dengannya seperti ini."

"Haha, aku tidak pernah mengerti jalan pikiranmu itu. Waktu dosen mengabsen kelas juga kau lebih memilih untuk memasang earphone-mu itu begitu namamu selesai dipanggil. Apa itu juga karena kau tidak ingin mendengar nama dari gadis itu?"

"Yup! Sekarang mari kita sudahi saja membicarakannya. Aku takut dia bersin-bersin disana karena kita membicarakannya seperti ini."

"Hahaha, sekali lagi keluar kata-kata yang tidak ilmiah dari mulutmu, kawan."

"Hidup jangan terlalu dibuat ilmiah. Kita bukan robot. Kita diciptakan bukan untuk menuruti perintah, tapi menjalankan kewajiban."

Dua sahabat si anak tukang bor itu hanya tersenyum dan memilih untuk tidak melanjutkannya lagi. Mereka sangat senang mempunyai teman seperti si anak tukang bor itu.

                              ***

Dengan kemarin, total sudah tiga hari si pesohor tidak mengikuti kelas.
Tapi hari ini, dia nampak terlihat di tempat duduknya yang biasa. Dan dengan tiga "bodyguard" nya yang seperti biasa, bikin keder. Bacon, Ockham, dan Hobbes.

"Setelah kelas, kantin lantai tiga, bisa?"

Si pesohor terkejut dengan ajakan yang tiba-tiba dari si anak tukang bor. Buku Francis Bacon yang sedang dibacanya pun ia tutup namun lupa diberi penanda halaman. Setelah tampak menyesal dengan hilangnya halaman buku yang tengah dibacanya, si pesohor tersenyum manis dan mengangguk mengiyakan ajakan si anak tukang bor.

Lima jam waktu kuliah hari itu terasa seperti lima menit saja bagi si pesohor. Dia tidak terbiasa janjian dengan seseorang, apalagi hanya berdua, apalagi dengan seorang cowok. Meski dia tahu ajakan itu adalah ajakan diskusi untuk event, tetap saja dia tegang. Dikeluarkannya dari dalam tasnya satu lagi buku "menyeramkan" dengan genre psikologi Marxist, bertuliskan 'Sigmund Freud' besar. Resmilah "bodyguard" si pesohor itu menjadi empat.

Sore itu di kantin lantai tiga, sepi pengunjung. Ada beberapa pasangan yang memilih kursi pojok, berciuman. Si pesohor yang tiba lebih dulu di kantin itu menjadi semakin tegang dan tertekan. Sementara si anak tukang bor sedang menghadap dosen untuk memberikan rancangan awal desainnya untuk event tersebut.

"Ah, maaf, tadi si ibu dosen sedikit ceramah tentang ini," si anak tukang bor dengan nafas yang terengah-engah melambai-lambaikan kertas gambar A4 nya.

"Mungkin, kita di ground floor saja. Aku tidak nyaman disini," pinta si pesohor sambil menyilangkan tali tas selempangnya ke bahu kirinya.

"Ya, aku juga merasa seperti itu," jawab si anak tukang bor setuju.

"Lalu, apa yang sudah kamu kerjakan? Boleh aku lihat?"

"Silahkan. Bu dosen sudah setuju desain ini yang diajukan ke panitia lomba, tapi aku belum akan menyerahkannya. Setidaknya sampai kamu lihat dan juga menyumbang ide disini."

Si anak tukang bor kemudian menyerahkan tiga kertas gambar yang berada di tangan kanannya itu.
Tidak keluar komentar apapun dari mulut si pesohor.

Si pesohor sedang merasa ada di dunia lain.

Goresan, bentuk desain, permainan warna yang dipilih, dan pemilihan karakter yang dilakukan si anak tukang bor itu seakan masuk ke dalam ranah kreativitas si pesohor. Mereka menyatu. Bermain di angan-angan. Si pesohor bisa melihat emosi-emosi yang ada di kertas itu. Dia sedang berada di amusement park pribadi milik imajinasi si anak tukang bor. Tapi ada sesuatu yang kurang. Kurang kuat. Kurang nendang. Kurang mematikan.

"Ini bagus sekali. Indah. Tapi ada yang kurang. Belum ada sesuatu yang membuat mataku tidak ingin berpaling."

"Nah, disitu aku membutuhkan imajinasi terukurmu. Imajinasiku terlalu liar untuk lomba desain bertema seperti ini."

"Oke, mari kita coba bicara sebentar."

"Mungkin sebaiknya dilanjutkan besok saja. Sudah hampir senja, dan kamu ada latihan 'kan?"

"Aahh, kamu benar!"

Hampir saja si pesohor itu melupakan jadwal latihannya. Setelah berpamitan seperlunya, dan permohonan untuk membawa pulang kertas hasil desain itu, si pesohor menghilang dari pandangan si anak tukang bor bersamaan dengan mobil berwarna hitam elegan yang membawa si pesohor itu pergi.

                             ***

Esoknya, keduanya kembali bertemu di kantin lantai tiga. Tapi kali ini di siang hari, dan tidak ada pasangan mahasiswa yang sedang berciuman disana.

"Kamu tahu, gambar-gambar ini membuatku tidak bisa tidur semalaman!" ujar si pesohor dengan semangat. Dan memang terlihat kedua matanya berkantung hitam kecil dikelopaknya.

"Seharusnya kamu istirahat..."

"Tidak. Tidak. Bukan itu yang ingin aku bicarakan saat ini. Desain ini, dan teori chaos and order bisa digabungkan!"

Si pesohor menunjuk ke kertas pertama, kemudian menunjuk lagi ke kertas kedua. Mengisyaratkan untuk adanya penggabungan desain.

"Teori chaos and order? Apa lagi itu?"

"Duh! Teori kehidupan! Dimana manusia percaya bahwa kehidupan adalah keteraturan, order. Percaya bahwa segala yang terjadi di hidup adalah keteraturan. Tapi lupa bahwa chaos adalah teman bercumbu sang order. Chaos bagai siluman bayangan yang selalu menghantui order. Lupa bahwa tidak ada yang pasti antara order tercipta akibat chaos-chaos yang membentuknya, atau chaos yang akan muncul akibat dunia ini terlalu ekuilibrium, terlalu seimbang, terhadap order."

Si anak tukang bor seakan sedang menyaksikan seorang ahli agama yang sedang mempersuasi dirinya untuk berpindah agama. Dia tidak mengira si pesohor memiliki sisi seperti ini, sisi yang sangat ilmiah.

Kalau disubtitusikan ke teori itu, si anak tukang bor jelaslah sang chaos. Sementara sosok cleopatra salah zaman yang duduk dihadapannya saat ini adalah puan order.

"Itu kalau dimasukkan ke teori chaos dan order. Teori itu bersudut pandang pada 'Life' secara universal. Tapi kata Sigmund Freud..."

Sigmund Freud? Oh tulisan yang ada di buku yang tadi dibacanya, batin si anak tukang bor.

"....hidup itu tidak lebih dari semacam Weltanschauung. Ketakutan. Kita takut, itulah kenapa kita hidup. Adaptasi. Evolusi. Semua adalah weltanschauung. Rasa takut. Semua makhluk mampu beradaptasi karena takut. Berevolusi karena takut. Takut terhadap pemangsa, takut tidak kebagian makanan, takut ditinggal, takut meninggalkan, takut Tuhan, takut tidak diakui, dan semacam itu."

Dan sekarang kau benar-benar membuatku takut..... Kembali batin si anak tukang bor merespon tiap kata yang keluat dari mulut si pesohor.

"Dan untuk Sigmund Freud, desain ini yang cocok." si pesohor menunjuk ke kertas ketiga yang bergambar pohon manusia.

"Aku tidak tahu. Mungkin kita bisa menggabungkan saja semuanya. Sigmund atau siapa itu, dengan order-chaos. Jadikan satu saja." si anak tukang bor coba menanggapi.

"Jangan! Itu malah menjadi tidak kuat. Jangan jadi chaos disini, kita sudah berhasil menyusun skema dari ide-ide kita."

"O-oke ma-am.."

"Ah, aku terlalu banyak omong ya? Maafkan aku!"

Si pesohor menghentikan ceramah teorinya itu untuk sesaat. Kepalanya menunduk malu. Kecantikan ratu cleopatra kalah oleh raut malu si pesohor saat ini.

"Haha, tidak apa. Justru itu yang aku cari. Penguatan-penguatan itu yang aku butuhkan. Yang kita butuhkan. Untung saja aku tidak langsung memberikan desain itu pada bu dosen."

Perbincangan mereka berlanjut hingga hampir malam. Dan mengundang rasa iri dari tiap mata cowok dan cewek lain yang lewat di dekat mereka.

                              ***

"Yap, kira-kira seperti ini."

Si anak tukang bor menunjukkan desain hasil revisi bersama dengan si pesohor itu.

Dan sekali lagi, goresan, desain, warna, dan karakter yang tersaji di kertas itu seakan membuat si pesohor terbius. Orgasme imajinasi. Masih tetap membuat melayang di angan-angan. Masih terlihat emosi yang kaya. Tapi kali ini si pesohor merasa amusement park imajinasinya itu lebih kuat, terasa sentuhan Sigmund Freud, terlihat beberapa idol philosophy milik Francis Bacon.

"Tunggu dulu. Ini jenius. Idol philosophy nya Bacon kenapa ada disini? Benar kan, ini pikirannya Bacon yang kamu campur juga disini? Jenius, hidup memang butuh idolisasi. Butuh seseorang di depan kita yang bisa kita tiru langkah baiknya. Tapi, bukannya kemarin-kemarin kita hanya membahas order-chaos dan Sigmund Freud? Dan aku juga tidak merasa memberitahumu tentang pikiran dan teori milik Bacon, benar kan?" tanya si pesohor keheranan di tengah lamunan imajinasinya ketika memperhatikan kertas desain di hadapannya itu.

Entah untuk suatu alasan tertentu, si anak tukang bor itu tersenyum puas.

"Aku memutuskan untuk mencari tahu. Aku cuma tidak ingin kosakata 'bacon' di otakku hanya berupa daging asap." jawab si anak tukang bor itu percaya diri lalu menunjukkan tumpukan kertas fotokopian yang dijilid jadi satu. Dengan satu tulisan besar yang familiar, Francis Bacon.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari keduanya setelah itu. Si pesohor merasa tersanjung dengan kata-kata dan tindakan si anak tukang bor. Satu-satunya orang yang berhasil melampaui "bodyguard" yang sengaja dia pasang.

Muka si pesohor merona merah.

"Jadi... Setelah ini, kita bisa lebih nyambung?" tanya si pesohor ragu-ragu.

"Itulah gunanya aku juga membaca buku ini, meski hanya fotokopian."

Si pesohor tampak malu. Kecantikan yang melampaui ratu cleopatra itu terpancar kembali. Kecantikan yang membuat si anak tukang bor nan rupawan itu tidak tahan lagi untuk bertanya.

"Siapa namamu? Ah, anu, bukan bermaksud sok dekat, hanya kita perlu menuliskan nama kita berdua di kertas desain itu sebelum kita serahkan pada panita lomba 'kan?"

"Iya tidak apa. Namaku Jessica. Jessica Veranda. Kamu bisa panggil apa saja, Jessica atau Ve. Dan...eh, namamu? Biar aku saja yang tulis nama kita dikertas ini," tanya si pesohor itu tidak kalah ragunya.

"Angga Agustian. Orang terdekatku sering memanggilku Angga Balenk."

"Balenk?"

"Ya, sepertinya itu semacam panggilan untuk anak tukang bor di daerahku. Teman-temanku sesama anak tukang bor juga mendapatkan embel-embel Balenk. Icang Balenk, Setiyo Balenk, dan lainnya."

"Hihi. Kamu lucu.."

Tawa geli mereka berdua akhirnya meruntuhkan dinding tebal diantara mereka berdua yang selama ini tercipta. Selaras dengan tangan lentik Jessica yang menuliskan nama mereka di kertas hasil peleburan ide mereka berdua itu. Bukti akan "satu" nya pikiran mereka.

Dan itu awal dari dimulainya sebuah cerita, sebuah romansa, dari sebuah kampus desain. Romansa yang bahkan membuat Romeo dan Juliet iri membacanya.

~END~

Author : @PradanaAnandya